Minggu, 03 Desember 2017

Mari Mengintip Budaya Makanan di Romawi Zaman Kuno!

Halo semuanya, post kali ini akan membahas budaya makanan bangsa Romawi pada zaman dulu. Apakah kalian sering melihat adegan seseorang yang makan dengan posisi tiduran dengan bersandar menggunakan siku tangan kirinya? Lalu tangan kanan digunakan untuk mengambil makanan-makanan yang disediakan oleh para budaknya? Ternyata adegan tersebut benar-benar ada dalam kehidupan bangsa Romawi loh! Bagi kalian yang penasaran untuk menonton film dokumenter mengenai budaya makanan bangsa Romawi, video di bawah ini sangat layak ditonton!




Ringkasan:

Bangsa Romawi merupakan pendiri pertama peradaban di Eropa, yang juga mengatur pola makan di dalamnya. Mereka mempersembahkan makanan kepada dewa dan orang mati, serta sangat menghormati para ahli makanan. Pada tahun 30 AD, makanan sudah dijual di setiap jalanan di Roma. Para ahli makanan biasanya sangat tertarik dengan bau yang tajam dari sayuran, khususnya rempah-rempah, serta daging. Salah satu ahli makanan yang terkenal adalah Marcus Gavius Epicurus, yang ditemani oleh pelayan dapurnya dalam mencari kelinci. Marcus sedang membuat resep baru yang nantinya akan dimasukkan ke dalam perjanjian besar pertama sejarah memasak. Semua ahli makanan mengetahui bahwa bahan baku yang berkualitas akan menghasilkan masakan yang berkualitas juga. Setelah semua bahan dibeli, proses percobaan langsung dilakukan di dapur. Di dapur terdapat seorang budak yang tugasnya mengikuti seluruh perintah dari para ahli makanan, yang disebut Kokos. Pada zaman romawi, tempat untuk menyiapkan makanan sangat ketat. Jika zaman sekarang kita memiliki dapur, tempat pembuatan makanan bukan merupakan hal yang penting. Hal terpenting adalah makanan dapat disajikan di meja. Ciri khas lain dari dapur bangsa Romawi adalah lokasinya yang berada di dekat toilet, dengan tujuan menampung limbah air yang dihasilkan.

Adanya kejadian erupsi Vesuvius di AD 79, memberikan informasi tentang perilaku bangsa Romawi. Sejarah yang mengatakan bahwa orang roma menghabiskan waktunya untuk makan dan pesta pora tidaklah benar. Sebaliknya, bangsa Romawi adalah orang yang sombong dan hanya makan sedikit. Hanya beberapa orang istimewa yang bisa memanjakan dirinya dengan makanan. Para orang kaya selalu makan dengan posisi bersandar menggunakan siku tangan kirinya, lalu mengambil makanan dengan tangan kanan. Terdapat juga para penyair dengan alat musiknya yang disebut Lyre, untuk menggabungkan suasana pesta dan takhayul. Selain itu, ruang makan di rumah orang kaya dianggap sebagai simbol yang mewakili dunia. Ruang makan terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu langit-langit dengan arti mewakili dunia para dewa, lalu meja untuk menyediakan makanan dengan arti sebagai bum, dan lantai dengan arti tempat untuk orang-orang terbuang atau sakit. Di sisi lain, orang-orang Romawi yang sederhana memiliki diet dengan kandungan protein yang rendah dan hanya diperkaya dengan sereal, sedangkan orang miskin mengonsumsi roti chuk. Seiring berjalannya waktu, metode peternakan berkembang, sehingga masyarakat Roma lebih sering mengonsumsi daging babi.

Dilihat dari selera makannya, orang Roma tidak terlalu menyukai anggur merah, namun menyukai anggur putih. Pada waktu itu anggur dibuat dengan cara menginjak-injak buah anggur, lalu ditekan dengan alat berat yang menggunakan sistem katrol. Setelah itu cairan anggur dimurnikan, ditambahkan madu, serta sedikit diasinkan dengan air laut untuk menambah cita rasa. Di lain sisi, orang Roma menyukai makanan laut dan tidak bergantung pada kaldu sapi, ayam, babi, dan sejenisnya. Hal ini dapat dibuktikan dari lokasi Roma yang dekat dengan laut, serta armadanya yang besar. Keunikan bangsa Romawi dalam mengolah ikan adalah tidak ada satu pun bagian yang dibuang. Mulai dari kepala hingga jeroan, semuanya ditekan dan disaring untuk dijadikan saus. Makanan ternyata tidak hanya berguna bagi tubuh, tetapi juga dapat menyulut perang. Permasalahan buah ara membuat para senator kecewa, sehingga mengusulkan peperangan. Berhubungan dengan perang, seorang prajurit harus makan makanan berkualitas agar mendapatkan energi dan kekuatan untuk melawan musuh. Sayuran kering yang selalu dibawa merupakan alasan dibalik banyaknya kemenangan dari prajurit Romawi. Selain prajurit, pola makan juga berpengaruh terhadap performa seorang gladiator. Mereka tidak mengonsumsi pasta, namun hanya mengonsumsi sereal, spelt (gandum yang dikuliti), dan buncis. Makanan-makanan tersebut mampu memberikan kekuatan dan energi.

Mari Mengintip Budaya Makanan di Romawi Zaman Kuno!

Halo semuanya, post kali ini akan membahas budaya makanan bangsa Romawi pada zaman dulu. Apakah kalian sering melihat adegan seseorang yang...