Halo semuanya, pada post kali ini saya akan memberikan sejumlah informasi mengenai penyebab bervariasinya pola pangan di dunia. Saya harap informasi ini dapat memperluas wawasan dan menambah sudut pandang kalian terhadap pola pangan di dunia ini. Banyak penelitian sosial yang mempelajari mengapa pola pangan di suatu tempat bisa jauh berbeda dengan tempat lainnya. Tidak hanya itu, dalam satu daerah pun terdapat berbagai macam pola pangan. Lalu faktor apa saja yang mempengaruhi pola pangan dunia?
Tingkat Pendapatan/Penghasilan
Terlihat jelas bagaimana aspek ini dapat memengaruhi pola pangan di dunia. Seseorang, kelompok, atau sebuah keluarga dengan tingkat pendapatan yang rendah pasti memiliki keterbatasan untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Jika mereka ingin membeli makanan yang berkualitas, tentu penghasilan mereka tidak akan cukup untuk membeli buah dan sayuran. Hal ini mendorong terbentuknya pola konsumsi yang mengutamakan kuantitas dari pada kualitas. Segala sesuatu yang mereka makan didasarkan pada tujuan untuk mengenyangkan perut, bukan untuk menyehatkan tubuh. Di negara maju seperti Amerika Serikat, kaum ini banyak mengonsumsi junk food, sementara di Indonesia, kaum ini banyak mengonsumsi makanan pinggiran seperti warteg, gorengan, nasi pecel, dan sebagainya. Sebaliknya, mereka dengan tingkat pendapat yang tinggi memiliki kuasa yang lebih untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Mereka cenderung selektif terhadap makanan apa yang masuk ke dalam tubuhnya. Hal ini membuat mereka cenderung untuk mengutamakan kualitas dari pada kuantitas. Makanan yang mereka pilih adalah buah, sayuran, dan masakan berkualitas lainnya.
Tingkat Pendidikan
Berhubungan dengan aspek sebelumnya, tingkat pendidikan juga jelas memengaruhi pola pangan. Meskipun sama-sama berpenghasilan rendah, seseorang dengan tingkat pendidikan tinggi tentu memiliki pola pangan yang berbeda dengan seseorang yang tidak berpendidikan. Mereka yang berpendidikan mengetahui ilmu mengenai nutrisi, sehingga lebih sadar akan kesehatan. Hal ini tentu tidak berlaku bagi mereka yang tidak berpendidikan. Lebih buruk lagi, mereka bisa menganggap segala sesuatu yang mereka makan itu sehat, karena 'tidak pernah' membuat mereka sakit. Sebagai contoh, seorang sarjana ilmu kesehatan yang baru lulus, kemudian pulang kembali ke desanya. Orang ini sudah mengetahui bahwa jeroan tidak sehat bagi kesehatan, namun orang tua dan teman-temannya masih menganggap jeroan itu menyehatkan tubuh. Contoh lainnya, seorang bodybuilder tentu memiliki pola pangan yang berbeda dengan seorang pekerja kantoran. Untuk meningkatkan massa otot, seorang bodybuilder tahu bahwa mereka harus mengonsumsi makanan tinggi protein, dengan jumlah sekitar 1.5 kali bobot tubuhnya. Dibandingkan dengan pekerja kantoran, mereka hanya makan untuk kenyang tanpa memperhatikan kandungan protein dari makanan tersebut.
Agama
Aspek lainnya yang juga terlihat jelas dalam memengaruhi pola pangan adalah aspek agama. Jelas untuk penganut agama Muslim untuk tidak mengonsumsi babi, sedangkan penganut agama Hindu untuk tidak mengonsumsi sapi.
Usia dan Penyakit
Umumnya, seseorang yang semakin tua akan semakin selektif terhadap apa yang mereka makan. Hal ini disebabkan oleh munculnya berbagai penyakit yang membatasi gairah makan mereka. Sebagai contoh, seseorang yang diabetes sudah pasti tidak mengonsumsi makanan yang tinggi kandungan gulanya, atau bahkan menghindari makanan yang mengandung gula. Meskipun tidak selalu, banyak juga orang muda yang sudah mengidap berbagai jenis penyakit. Hal ini juga pasti memengaruhi pola pangannya.
Politik
Aspek ini mungkin tidak pernah terbayang pengaruhnya terhadap pola pangan. Salah satu contoh yang dapat menggambarkan adalah sertifikasi halal. Bagi penganut agama Islam, adanya label halal dalam sebuah produk pangan sangat menentukan minat pembelian. Banyak dari mereka yang tidak jadi membeli suatu produk pangan yang tidak ada label halalnya. Sebaliknya, adanya label halal dalam suatu produk membuat seorang Muslim tertarik untuk membelinya secara terus menerus. Contoh lainnya adalah pencantuman label komposisi nutrisi. Bagi seseorang yang peduli tentang kandungan gizi, tidak adanya label nutrisi dalam produk membuat dia tidak jadi untuk membeli produk tersebut.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar