Saya Joshua Agustinus Setyawan yang merupakan mahasiswa Surya University mengucapkan selamat datang! Blog ini akan menjelaskan berbagai informasi seputar dunia teknologi pangan, semoga mudah dimengerti dan bermanfaat bagi kita semua demi mencapai Indonesia Jaya. Maaf apabila ada kesalahan kata dan saya akan sangat berterima kasih jika kalian berkenan untuk memberikan kritik dan saran. Selamat membaca!
Halo semuanya, post kali ini akan membahas budaya makanan bangsa Romawi pada zaman dulu. Apakah kalian sering melihat adegan seseorang yang makan dengan posisi tiduran dengan bersandar menggunakan siku tangan kirinya? Lalu tangan kanan digunakan untuk mengambil makanan-makanan yang disediakan oleh para budaknya? Ternyata adegan tersebut benar-benar ada dalam kehidupan bangsa Romawi loh! Bagi kalian yang penasaran untuk menonton film dokumenter mengenai budaya makanan bangsa Romawi, video di bawah ini sangat layak ditonton!
Ringkasan:
Bangsa Romawi merupakan pendiri pertama peradaban di Eropa, yang juga mengatur pola makan di dalamnya. Mereka mempersembahkan makanan kepada dewa dan orang mati, serta sangat menghormati para ahli makanan. Pada tahun 30 AD, makanan sudah dijual di setiap jalanan di Roma. Para ahli makanan biasanya sangat tertarik dengan bau yang tajam dari sayuran, khususnya rempah-rempah, serta daging. Salah satu ahli makanan yang terkenal adalah Marcus Gavius Epicurus, yang ditemani oleh pelayan dapurnya dalam mencari kelinci. Marcus sedang membuat resep baru yang nantinya akan dimasukkan ke dalam perjanjian besar pertama sejarah memasak. Semua ahli makanan mengetahui bahwa bahan baku yang berkualitas akan menghasilkan masakan yang berkualitas juga. Setelah semua bahan dibeli, proses percobaan langsung dilakukan di dapur. Di dapur terdapat seorang budak yang tugasnya mengikuti seluruh perintah dari para ahli makanan, yang disebut Kokos. Pada zaman romawi, tempat untuk menyiapkan makanan sangat ketat. Jika zaman sekarang kita memiliki dapur, tempat pembuatan makanan bukan merupakan hal yang penting. Hal terpenting adalah makanan dapat disajikan di meja. Ciri khas lain dari dapur bangsa Romawi adalah lokasinya yang berada di dekat toilet, dengan tujuan menampung limbah air yang dihasilkan.
Adanya kejadian erupsi Vesuvius di AD 79, memberikan informasi tentang perilaku bangsa Romawi. Sejarah yang mengatakan bahwa orang roma menghabiskan waktunya untuk makan dan pesta pora tidaklah benar. Sebaliknya, bangsa Romawi adalah orang yang sombong dan hanya makan sedikit. Hanya beberapa orang istimewa yang bisa memanjakan dirinya dengan makanan. Para orang kaya selalu makan dengan posisi bersandar menggunakan siku tangan kirinya, lalu mengambil makanan dengan tangan kanan. Terdapat juga para penyair dengan alat musiknya yang disebut Lyre, untuk menggabungkan suasana pesta dan takhayul. Selain itu, ruang makan di rumah orang kaya dianggap sebagai simbol yang mewakili dunia. Ruang makan terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu langit-langit dengan arti mewakili dunia para dewa, lalu meja untuk menyediakan makanan dengan arti sebagai bum, dan lantai dengan arti tempat untuk orang-orang terbuang atau sakit. Di sisi lain, orang-orang Romawi yang sederhana memiliki diet dengan kandungan protein yang rendah dan hanya diperkaya dengan sereal, sedangkan orang miskin mengonsumsi roti chuk. Seiring berjalannya waktu, metode peternakan berkembang, sehingga masyarakat Roma lebih sering mengonsumsi daging babi.
Dilihat dari selera makannya, orang Roma tidak terlalu menyukai anggur merah, namun menyukai anggur putih. Pada waktu itu anggur dibuat dengan cara menginjak-injak buah anggur, lalu ditekan dengan alat berat yang menggunakan sistem katrol. Setelah itu cairan anggur dimurnikan, ditambahkan madu, serta sedikit diasinkan dengan air laut untuk menambah cita rasa. Di lain sisi, orang Roma menyukai makanan laut dan tidak bergantung pada kaldu sapi, ayam, babi, dan sejenisnya. Hal ini dapat dibuktikan dari lokasi Roma yang dekat dengan laut, serta armadanya yang besar. Keunikan bangsa Romawi dalam mengolah ikan adalah tidak ada satu pun bagian yang dibuang. Mulai dari kepala hingga jeroan, semuanya ditekan dan disaring untuk dijadikan saus. Makanan ternyata tidak hanya berguna bagi tubuh, tetapi juga dapat menyulut perang. Permasalahan buah ara membuat para senator kecewa, sehingga mengusulkan peperangan. Berhubungan dengan perang, seorang prajurit harus makan makanan berkualitas agar mendapatkan energi dan kekuatan untuk melawan musuh. Sayuran kering yang selalu dibawa merupakan alasan dibalik banyaknya kemenangan dari prajurit Romawi. Selain prajurit, pola makan juga berpengaruh terhadap performa seorang gladiator. Mereka tidak mengonsumsi pasta, namun hanya mengonsumsi sereal, spelt (gandum yang dikuliti), dan buncis. Makanan-makanan tersebut mampu memberikan kekuatan dan energi.
Halo semuanya, saya harap kalian semua tidak kaget ketika membaca judul dari post kali ini. Maksud dari kata palsu itu adalah pembauran, karena banyak budaya makanan di Indonesia yang sebenarnya merupakan hasil dari pembauran loh! Lalu apa maksudnya? Ada dua pola pembauran yang terjadi pada budaya makanan Indonesia, yaitu akulturasi dan asimilasi. Apa sih maksudnya?
Akulturasi adalah pencampuran antara dua atau lebih budaya yang saling bertemu dan saling memengaruhi sehingga menjadi satu, lalu bertahan dalam waktu yang lama. Budaya di Indonesia mendapat pengaruh dari budaya asing, yang masih terjadi hingga sekarang. Seiring berjalannya waktu, budaya asing tersebut semakin membaur dengan budaya Indonesia. Hal ini menyebabkan terbentuknya budaya baru dengan tetap mengandung budaya asli Indonesia.
Lapis legit merupakan salah satu contohnya. Seperti yang sudah diceritakan pada beberapa post sebelumnya, lapis legit sebenarnya merupakan makanan yang berasal dari Belanda, yang bernama spekkoek (spekuk). Dengan menggunakan rempah-rempah yang hanya ada di Indonesia, yaitu kayu manis, cengkeh, kapulaga, dan pekak, spekkoek dimodifikasi agar sesuai dengan lidah masyarakat Indonesia. Dengan kata lain, spekkoek telah mengalami akulturasi menjadi lapis legit.
Contoh lainnya adalah bakso. Siapa yang sangka bahwa kuliner populer ini sebenarnya bukan asli Indonesia? Iya, bakso sebenarnya berasal dari China. Bakso yang asli terbuat dari daging babi. Namun karena mayoritas masyarakat Indonesia merupakan penganut agama islam, maka daging babi diganti dengan daging sapi, ayam, ataupun ikan.
Asimilasi serupa dengan akulturasi, namun salah satu budayanya lebih dominan. Jadi, asimilasi adalah pembauran dua kebudayaan, namun ciri khas dari salah satu budaya tersebut hilang, sehingga membentuk budaya yang baru.
Salah satu fenomena asimilasi dapat dirasakan ketika musim lebaran. Bagi kalian yang merayakan lebaran, pasti sudah tidak asing dengan yang namanya kue kering kan? Lidah Kucing, Nastar, Bola Cokelat, Semprit, Putri Salju, Sagu Keju, dan kue kering lainnya pasti bertebaran di meja rumah. Namun apakah kalian tahu bahwa kue kering sebenarnya merupakan tradisi umat Kristen pada saat merayakan hari natal? Akibat terjadinya asimilasi budaya, kue kering menjadi makanan wajib saat lebaran.
Halo semuanya, pada post kali ini saya akan memberikan sejumlah informasi mengenai penyebab bervariasinya pola pangan di dunia. Saya harap informasi ini dapat memperluas wawasan dan menambah sudut pandang kalian terhadap pola pangan di dunia ini. Banyak penelitian sosial yang mempelajari mengapa pola pangan di suatu tempat bisa jauh berbeda dengan tempat lainnya. Tidak hanya itu, dalam satu daerah pun terdapat berbagai macam pola pangan. Lalu faktor apa saja yang mempengaruhi pola pangan dunia?
Tingkat Pendapatan/Penghasilan
Terlihat jelas bagaimana aspek ini dapat memengaruhi pola pangan di dunia. Seseorang, kelompok, atau sebuah keluarga dengan tingkat pendapatan yang rendah pasti memiliki keterbatasan untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Jika mereka ingin membeli makanan yang berkualitas, tentu penghasilan mereka tidak akan cukup untuk membeli buah dan sayuran. Hal ini mendorong terbentuknya pola konsumsi yang mengutamakan kuantitas dari pada kualitas. Segala sesuatu yang mereka makan didasarkan pada tujuan untuk mengenyangkan perut, bukan untuk menyehatkan tubuh. Di negara maju seperti Amerika Serikat, kaum ini banyak mengonsumsi junk food, sementara di Indonesia, kaum ini banyak mengonsumsi makanan pinggiran seperti warteg, gorengan, nasi pecel, dan sebagainya. Sebaliknya, mereka dengan tingkat pendapat yang tinggi memiliki kuasa yang lebih untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Mereka cenderung selektif terhadap makanan apa yang masuk ke dalam tubuhnya. Hal ini membuat mereka cenderung untuk mengutamakan kualitas dari pada kuantitas. Makanan yang mereka pilih adalah buah, sayuran, dan masakan berkualitas lainnya.
Tingkat Pendidikan
Berhubungan dengan aspek sebelumnya, tingkat pendidikan juga jelas memengaruhi pola pangan. Meskipun sama-sama berpenghasilan rendah, seseorang dengan tingkat pendidikan tinggi tentu memiliki pola pangan yang berbeda dengan seseorang yang tidak berpendidikan. Mereka yang berpendidikan mengetahui ilmu mengenai nutrisi, sehingga lebih sadar akan kesehatan. Hal ini tentu tidak berlaku bagi mereka yang tidak berpendidikan. Lebih buruk lagi, mereka bisa menganggap segala sesuatu yang mereka makan itu sehat, karena 'tidak pernah' membuat mereka sakit. Sebagai contoh, seorang sarjana ilmu kesehatan yang baru lulus, kemudian pulang kembali ke desanya. Orang ini sudah mengetahui bahwa jeroan tidak sehat bagi kesehatan, namun orang tua dan teman-temannya masih menganggap jeroan itu menyehatkan tubuh. Contoh lainnya, seorang bodybuilder tentu memiliki pola pangan yang berbeda dengan seorang pekerja kantoran. Untuk meningkatkan massa otot, seorang bodybuilder tahu bahwa mereka harus mengonsumsi makanan tinggi protein, dengan jumlah sekitar 1.5 kali bobot tubuhnya. Dibandingkan dengan pekerja kantoran, mereka hanya makan untuk kenyang tanpa memperhatikan kandungan protein dari makanan tersebut.
Agama
Aspek lainnya yang juga terlihat jelas dalam memengaruhi pola pangan adalah aspek agama. Jelas untuk penganut agama Muslim untuk tidak mengonsumsi babi, sedangkan penganut agama Hindu untuk tidak mengonsumsi sapi.
Usia dan Penyakit
Umumnya, seseorang yang semakin tua akan semakin selektif terhadap apa yang mereka makan. Hal ini disebabkan oleh munculnya berbagai penyakit yang membatasi gairah makan mereka. Sebagai contoh, seseorang yang diabetes sudah pasti tidak mengonsumsi makanan yang tinggi kandungan gulanya, atau bahkan menghindari makanan yang mengandung gula. Meskipun tidak selalu, banyak juga orang muda yang sudah mengidap berbagai jenis penyakit. Hal ini juga pasti memengaruhi pola pangannya.
Politik
Aspek ini mungkin tidak pernah terbayang pengaruhnya terhadap pola pangan. Salah satu contoh yang dapat menggambarkan adalah sertifikasi halal. Bagi penganut agama Islam, adanya label halal dalam sebuah produk pangan sangat menentukan minat pembelian. Banyak dari mereka yang tidak jadi membeli suatu produk pangan yang tidak ada label halalnya. Sebaliknya, adanya label halal dalam suatu produk membuat seorang Muslim tertarik untuk membelinya secara terus menerus. Contoh lainnya adalah pencantuman label komposisi nutrisi. Bagi seseorang yang peduli tentang kandungan gizi, tidak adanya label nutrisi dalam produk membuat dia tidak jadi untuk membeli produk tersebut.
Halo semuanya! Pada kali ini kita akan berkenalan dengan sebuah diet unik yang mulai ngetrend belakangan ini. Nama diet tersebut adalah raw food diet, yaitu diet yang hanya mengonsumsi makanan 'hidup'. Apa maksudnya makanan 'hidup'? Makanan 'hidup' adalah buah, sayur, dan biji-bijian yang diolah tanpa menggunakan panas sama sekali, sehingga enzim-enzim di dalam makanan tersebut masih hidup dan bisa membantu kinerja tubuh kita. Mereka yang menerapkan diet ini percaya bahwa makanan yang 'hidup' akan membuat tubuh dan jiwa kita menjadi lebih hidup juga. Penasaran kan sama raw food diet? Bagi kalian yang ingin nonton langsung testimoni berbagai artis hollywood, atlet, dokter, dan bahkan orang yang berhasil sembuh dari diabetes akibat menerapkan diet ini, berikut adalah link dari videonya. Jika durasi filmnya terlalu lama, kalian dapat membaca ringkasan yang akan dijelaskan di bawah ini.
Starting Out
Memulai diet raw food memang
sulit, tetapi bukan berarti mustahil untuk dilakukan. Anthony Robbins
mengatakan bahwa ada titik perubahan di dalam hidup manusia. Pada saat
orang-orang mengonsumsi segala macam makanan yang mereka suka, akan datang
waktunya ketika mereka bosan dan tidak lagi mendapatkan manfaat yang
diinginkan. Keadaan tersebut dapat disebut sebagai titik jenuh. Ketika sampai
di titik jenuh, orang akan terdorong untuk mencari hal baru di dalam hidup
mereka dan sebagian dari mereka menanggapinya dengan mengubah pola makannya.
Peristiwa ini merupakan peluang seseorang untuk berubah, namun tidak sedikit
orang yang mengabaikan peluang tersebut dan kembali terjebak pada pola makan
yang lama. Mereka yang mengambil peluang tersebut bisa mencoba melakukan diet raw food. Salah satu cara yang bisa
dilakukanadalah hilangkan seluruh
produk yang berwarna putih seperti gula dan tepung terigu. Jika kita tidak bisa
melakukan semuanya dalam satu hari, maka lakukan secara bertahap dan
menggantinya dengan makanan alami. Kita juga bisa memulainya dari raw food yang disukai, lalu nikmati
prosesnya secara perlahan. Hal tersebut akan membuat kita secara perlahan-lahan
menikmati manfaat positif yang dihasilkan, dan mendorong kita untuk melakukan
diet tersebut dengan lebih baik lagi.
Terdapat beberapa fenomena menarik yang terjadi ketika seseorang menerapkan
diet raw food. Contohnya adalah
seorang atlet triatlon Branden Brazier yang banyak mengonsumsi makanan tinggi
kalori, namun tetap merasa letih. Seharusnya makanan berkalori tinggi seperti
selai kacang dan roti, akan memberikan energi yang tinggi pula. Namun setelah
beralih ke diet raw food,
permasalahan tersebut hilang. Meskipun mengonsumsi kalori 20-30% lebih sedikit
dari diet sebelumnya, Branden mendapatkan energi yang lebih banyak. Hal ini
dikarenakan selai kacang dan roti merupakan makanan berat yang sulit dicerna,
sehingga energi di dalam tubuhnya habis hanya untuk mencerna. Contoh lainnya
terjadi pada Woody Harrelson yang merupakan lactose
intolerant. Dia memiliki banyak jerawat dan warna merah di wajahnya yang
tidak pernah sembuh. Sudah banyak dokter dan spesialis kulit yang dia datangi,
namun tidak satu pun yang tahu penyebabnya. Sampai suatu saat ada seorang
wanita yang mengatakan bahwa Woody seorang lactose
intolerant. Pada saat itu juga dia berhenti konsumsi susu beserta produk
turunanya, dan masalah kulitnya pun hilang dan tidak pernah muncul lagi.
Wisdom of Eating Raw
Pada zaman yang semakin modern ini, pemerintah dan
para pelaku bisnis lainnya memberikan banyak pengaruh terhadap keyakinan kita.
Contohnya seperti American Dairy
Association dan American Meat Packers
Association yang menekankan bahwa manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa
produk hewani. Menurut orang-orang yang menerapkan diet raw food, hal tersebut tidaklah benar. Lillian Muller mengatakan bagaimana
mungkin seseorang bisa sehat dengan memasukkan daging hewan mati ke dalam
tubuhnya. Karyn Calabrese juga mengatakan bahwa makan daging hewan mati
bukanlah naluri alamiah manusia. Seseorang yang terdampar di dalam pulau
terpencil dan di depannya tersedia sapi mati dan sekeranjang apel, pasti akan
memilih apel untuk dimakannya. Berbeda dengan anjing yang merupakan hewan
karnivora, mereka secara alamiah akan memakan daging hewan mati. Berbagai
industri lainnya seperti obat-obatan dan medis juga berhasil membutakan
masyarakat. Mereka membuat orang berpikir bahwa dengan mengonsumsi obat-obatan
dan perawatan medis lainnya, tubuh mereka akan menjadi lebih baik. Bahkan
jurnal-jurnal medis yang beredar pun diragukan kebenarannya, karena sebagian
besar ilmuwan dikendalikan oleh para pemain industri.
Dengan mengonsumsi produk hewani, artinya kita
secara tidak langsung membunuh hewan. Lilian Muller mengatakan bahwa jika kita
tidak membeli dan memberikan uang kepada penjual daging, maka tidak ada
permintaan yang mendorong terjadinya pembunuhan dan pemotongan hewan.
Sebaliknya ketika kita mengonsumsi raw
food, hal ini merupakan win-win
solution ke segala pihak. Dengan menerapkan diet raw food, tubuh kita diuntungkan, keluarga kita diuntungkan, para
petani organik diuntungkan, dan para penjual produk organik diuntungkan. Rod
Rotondi mengatakan semua ini bukan hanya tentang raw food, tetapi gaya hidup. Ketika kita memulai hal yang baik,
semua orang akan melakukan hal yang sama, maka dunia akan menjadi tempat yang
lebih baik. Ada dua kereta dengan dua arah yang berlawanan. Kereta pertama
menuju ke arah kematian, kesakitan, kerusakan, dan kebencian, sedangkan kereta
kedua menuju ke arah cinta, tawa, kebahagiaan, kesenangan, kecantikan, dan umur
panjang. Ada banyak pilihan tersedia di depan mata kita dan sebaiknya kita
memilih pilihan tersebut dengan segenap hati dan jiwa.
Beating Diabetes
Di Amerika, banyak sekali populasi obesitas dan orang yang mengonsumsi
obat-obatan. Akibatnya, diabetes tipe 2 telah berkembang tiga kali lipat dalam
10 tahun terakhir. Meskipun menurut American
Diabetes Association diabetes merupakan penyakit paling mematikan ke lima
di Amerika Serikat, diabetes tetaplah merupakan penyakit gaya hidup. Banyak
orang mengira bahwa diabetes tidak bisa disembuhkan dan ternyata pemikiran
tersebut tidak benar. Hal ini dibuktikan oleh Kirt Tyson yang berhasil sembuh
dari diabetes. Dia sempat didiagnosis mengidap penyakit diabetes tipe 1.
Berdasarkan saran dari dokter Gabriel Cousens, dia menerapkan diet raw food dan mengonsumsi suplemen selama
30 hari. Hasilnya adalah tingkat gula darahnya kembali normal dan Kirt tidak
lagi memerlukan insulin.
Untuk mengurangi gejala diabetes, kita harus benar-benar menyelesaikan akar
permasalahannya. Diabetes itu disebabkan oleh konsumsi gula, produk hewani, dairy, dan kafein dalam jumlah yang
tinggi. Selain itu, rokok, pestisida, dan logam berat juga mengganggu kerja
insulin. Gary Null, Ph. D. mengatakan bahwa kita harus menganggap diabetes
adalah sebuah kata kerja, bukan kata benda. Artinya, ketika kita ‘sedang
melakukan diabetes’, seluruh aktivitas dan gaya hidup kita mendukung untuk menghadirkan
penyakit diabetes. Diabetes memang mematikan, tetapi dia tidak datang
sendirian. Banyak faktor lain yang mendukung munculnya diabetes dalam tubuh
kita, seperti spiritual, emosi, intelektual, dan berbagai faktor lainnya.
Ketika kita hanya fokus untuk menyembuhkan diabetes, sesungguhnya kita hanya melakukan
sebagian kecil dari metode penyembuhan diabetes yang sebenarnya. Dengan kata
lain, diabetes itu bisa dicegah dengan cara mengubah pola hidup kita.
Health and Wellness
Menurut David Wolfe, orang yang gila adalah orang
yang melakukan sesuatu berulang-ulang tetapi mengharapkan hasil yang berbeda.
Berdasarkan definisi tersebut, banyak orang gila di dunia ini. Mereka berharap
untuk tidak sakit, tetapi terus menyiksa tubuhnya dengan pola hidup yang buruk.
Minum alkohol, merokok, makan makanan olahan, dan jarang olah raga merupakan
pola hidup orang zaman sekarang. Ketika Gabriel Cousen sedang melakukan
penelitian biokimianya, tiba-tiba dia terpikir untuk menyelam lebih dalam ilmu
penyembuhan. Dia berpikir dan percaya bahwa orang bisa disembuhkan secara
permanen, terutama sebelum mereka mencapai usia 60 tahun. Kunci untuk mencapai
hal tersebut adalah perubahan pola hidup. Fred Bisci, Ph. D. merupakan
konsultan nutrisi yang banyak sekali didatangi orang-orang sakit. Selama
menanggapi mereka, Fred hanya fokus terhadap perubahan pola hidup. Dia
mengatakan bahwa tubuh manusia merupakan mesin penyembuh yang paling ampuh.
Hanya ada satu hal yang perlu dilakukan, yaitu menempatkan tubuh tersebut di
lingkungan yang tepat, maka penyembuhan akan terjadi dengan baik. Hal serupa
juga dikatakan oleh Joel Fuhrman, M. D. yang merupakan seorang dokter. Ketika
kita menghilangkan sumber penyakit, maka secara alami tubuh kita akan
memperbaiki dirinya sendiri. Berdasarkan pengalaman Bruce Lipton, Ph. D.,
penyakit yang paling sering ditemukan adalah penyakit kardiovaskular dan
kanker. Padahal dengan mengubah pola hidup, risiko penyakit kardiovaskular dan
kanker dapat diturunkan sebanyak 90% dan 60%.
Seorang dokter bisa saja memberikan pil untuk
meningkatkan atau menurunkan tekanan darah, jumlah urin, gula darah, membuat
orang tidur lelap, dan berbagai fungsi lainnya. Tetapi yang harus diperhatikan
adalah kemanjuran pil tersebut berbanding lurus dengan sifat toksisitasnya.
Obat-obatan sebenarnya bukan menyembuhkan, tetapi menghambat berbagai reaksi di
dalam tubuh agar kita tidak merasa sakit. Sering juga kita melihat pasien yang
berpindah dari satu jenis obat ke jenis obat lainnya. Hal tersebut membuktikan
bahwa obat-obatan sebenarnya tidak menyembuhkan seseorang. Di sisi lain,
gejala-gejala penyakit yang timbul biasanya merupakan hasil dari reaksi tubuh
dalam menyingkirkan senyawa beracun di dalamnya. Kesimpulannya, kesehatan itu
berasal dari apa yang masuk ke dalam tubuh kita. Karyn Calabrese yang dulunya
menerapkan Standard American Diet,
mengalami berbagai masalah kesehatan. Dia sering mengalami konstipasi yang
parah, kesehatan kulitnya terganggu, pikirannya tidak jernih, serta mengalami premenstrual syndrome (PMS). Namun
setelah mengubah pola hidupnya dan menerapkan diet raw food, kesehatannya berubah drastis. Sekarang Karyn menjalani
lima hingga enam bisnis dan tidur hanya 3-4 jam sehari, namun dia tidak pernah
merasa kelelahan. Tidak seperti wanita lain pada umumnya, kerutan dan kegemukan
juga tidak didapatkan oleh Karyn ketika usianya bertambah. Seorang ahli
nutrisi, Mike Adams, menemukan orang yang menerapkan diet raw food secara parsial ataupun menyeluruh, bebas dari kanker,
diabetes, penyakit jantung, dan depresi. Dia juga melihat banyak orang tidak
lagi mengonsumsi obat-obatnya setelah menerapkan diet raw food selama 3-4 minggu.
Weight Reduction
Kaum obesitas di dunia paling banyak ditemukan di
Amerika Serikat dan masih akan terus bertambah jumlahnya. Mereka adalah orang
yang kecanduan makanan, gula, lemak jenuh, fast
foods, dan berbagai makanan olahan lainnya. Ditambah lagi, anak-anak
obesitas juga banyak ditemukan di Amerika Serikat. Menurut Anthony Robbins,
kecanduan adalah kebutuhan yang tidak terpenuhi. Kecanduan tidak buruk asalkan
kita mengisinya dengan hal yang baik. Ketika kita bisa mendapatkan alternatif
cara yang positif untuk mengisi kecanduan yang sama, maka kehidupan kita
berubah menjadi lebih baik. Salah satu alasan banyaknya orang kecanduan makanan
dijelaskan oleh Joel Fuhrman. Sebanyak 51% kalori pada diet orang Amerika
berasal dari makanan olahan, dan 40%nya berasal dari daging yang tidak
mengandung vitamin E, C, dan K, folat, antioksidan, bioflavonoid dan lignin. Artinya sebagian besar orang Amerika hanya
memenuhi kebutuhan nutrisi makro dan sangat kekurangan nutrisi mikro. Ketika
kekurangan nutrisi mikro, maka tubuh kita akan cenderung meminta nutrisi makro
yang lebih banyak lagi, sehingga mendorong orang untuk makan lebih banyak lagi
dan menjadi obesitas. Hal ini dirasakan oleh Angela Stokes yang dulunya
memiliki berat badan 300 pon. Pada awalnya, Angela adalah seorang yang obesitas
dengan pola makan yang sangat buruk. Satu bukanlah angka yang tepat untuk
jumlah porsi makanannya. Dia sering sekali pergi ke Mc Donalds dan Burger King
untuk memenuhi nafsu makannya. Akhirnya pada May 2002, Angela dipinjamkan buku
berjudul Raw Family oleh temannya.
Buku tersebut mengubah hidupnya dengan mendorongnya untuk menerapkan diet raw food. Hasilnya adalah berat badannya
turun sebanyak 160 pon dan banyak orang kagum melihat perubahan yang
dialaminya.
Tidak hanya menurunkan berat badan, diet raw food akan membawa tubuh kita ke
berat alaminya. Orang gemuk akan menjadi kurus, sementara orang kurus akan
menjadi semakin kuat. Banyak orang yang ingin kurus dan menerapkan berbagai
macam diet yang tidak memberikan hasil. Lillian Muller berkata bahwa dengan
mengikuti diet raw food, kita tidak
perlu memikirkan berat badan kita. Tubuh kita secara alami akan kembali ke
berat normalnya asalkan kita melakukan diet raw
food dan memperhatikan asupan garam. Tidak hanya kurus, tubuh kita juga
akan semakin cantik, sehat, dan panjang umur. Anthony Muller juga menunjukkan
bahwa diet raw food memberikan
keuntungan dari segi energi. Alive food adalah
makanan yang terkonsentrasi. Tubuh kita tidak perlu mengeluarkan energi yang
banyak untuk mencernanya, namun mendapatkan energi yang signifikan. Hasilnya,
tubuh kita mendapatkan kelebihan energi yang bisa digunakan untuk membersihkan
racun yang menumpuk. Sebaliknya ketika kita mengonsumsi daging, energi di dalam
tubuh kita akan habis hanya untuk mencerna. Inilah yang membedakan raw food dari makanan olahan atau produk
hewani lainnya. Selain itu, makanan harusnya dicerna selama 3-4 jam, tetapi
kebanyakan orang mencernanya selama 7-8 jam karena makan yang berlebihan. Kita
juga mengonsumsi kopi, soda, dan gula, yang sebenarnya tubuh kita tidak tahu
cara mencernanya. Anthony mengatakan jika kita ingin merasakan alive, konsumsilah alive foods.
Detox and Cleansing
Racun merupakan senyawa yang buruk bagi tubuh manusia. Sebagian besar racun
berasal dari produk hewani dan berbagai produk olahan. Seorang ahli biologi
sel, yaitu Bruce Lipton, Ph. D.,
mengatakan bahwa racun akan mengganggu sistem sinyal di dalam tubuh manusia.
Sistem sinyal manusia itu terjadi karena adanya berbagai senyawa kimia beserta
jalur reaksinya. Ketika racun yang juga merupakan senyawa kimia masuk ke dalam
tubuh kita, dia akan mengganggu sistem sinyal tubuh, sehingga timbul berbagai
macam penyakit. Oleh karena itu kita harus melakukan detoksifikasi, yaitu
proses pengeluaran racun dari dalam tubuh kita. Detoksifikasi merupakan hal
yang sulit untuk dilakukan. Rev. Michael
Beckwith mengatakan bahwa ketika seseorang mengganti pola hidupnya, seluruh
pola di dalam sistem selnya juga berubah. Proses perubahan ini sering
menimbulkan berbagai reaksi yang menyiksa tubuh kita. Hal ini dialami oleh
Morgan Spurlock yang merupakan direktur film dokumenter berjudul Super Size Me.
Setelah selesai dari diet buruknya, yaitu konsumsi McDonalds dalam 30 hari
berturut-turut, dia ditawarkan istrinya untuk mencoba diet vegan detox, yaitu diet yang hanya mengonsumsi buah, sayur, serta
gandum dan biji-bijian secara utuh. Segala makanan olahan seperti kafein, gula,
junk food, dan sebagainya tidak boleh
dikonsumsi. Setelah beberapa hari menjalankan diet ini, tubuh Morgan Spurlock
mengalami proses detoksifikasi massal seperti pecandu narkoba. Dia merasa
pusing seperti dipukul-pukul, tubuhnya bergetar dan berkeringat selama
berhari-hari. Setelah tiga hari, gejala-gejala tersebut mereda dan tubuhnya mulai
membaik. Hasilnya ternyata memuaskan, tingkat kolesterol dan tekanan darahnya
kembali normal, serta kerja hatinya juga kembali normal. David Wolfe mengatakan
seluruh proses itu disebut sebagai episode detoksifikasi. Proses tersebut
diumpamakan sebagai bentuk protes tubuh kita untuk mengeluarkan seluruh sampah
yang ada di dalamnya. Untuk melakukannya, seseorang harus memiliki keinginan
yang kuat agar dapat melewati fase tersebut. Seorang ahli kesehatan dan nutrisi
Gary Null, Ph. D. mengatakan bahwa sekitar empat sampai lima hari pertama dari
proses detoksifikasi, kita akan mengalami mood
swing, energy swing, blood sugar swing, dan berbagai
perubahan reaksi biokimia lainnya. Namun proses detoksifikasi yang sebenarnya
terjadi selama dua tahun. Sel itu memiliki telomer dan kromosom yang
diumpamakan sebagai jam usia. Ketika sel itu rusak, maka jam usia kita akan
berputar semakin cepat dan tubuh kita berada dalam proses pembentukan penyakit.
Untuk memutarbalikkan proses tersebut, kita harus memperbaiki DNA kita dan
dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk melakukannya.
Optimal Athletic Performance
Tidak hanya baik bagi tubuh, diet raw
food juga bermanfaat bagi seorang atlet. Dengan mengonsumsi raw food, tubuh kita tidak perlu lagi
menggunakan energinya untuk memproduksi enzim. Keuntungannya, energi tersebut
bisa digunakan tubuh untuk aktivitas lainnya, seperti proses recovery yang lebih baik. Seorang atlet
triatlon Brendan Brazier awalnya mengira bahwa kunci kesuksesan seorang atlet
berasal dari metode latihannya. Dia mengamati dan membandingkan metode latihan
seorang atlet profesional dengan atlet amatir. Ternyata metode latihan dari
kedua jenis atlet tersebut tidak jauh berbeda. Ternyata perbedaannya berada
pada sesi antar latihannya, yaitu proses recovery
dan nutrisi berperan besar dalam proses tersebut. Brendan Brazier sudah mencoba
berbagai jenis diet seperti tinggi protein, rendah protein, tinggi karbohidrat,
atau rendah karbohidrat. Satu jenis diet memang lebih baik dari jenis lainnya,
tetapi tidak satu pun dari jenis diet tersebut dapat dikatakan sangat baik.
Akhirnya dia mencoba diet plant based dengan
tidak mengonsumsi produk hewani, dairy,
telur, ataupun madu. Pada awalnya diet tersebut tidak berjalan dengan baik. Dia
menjadi lebih cepat lelah, lesu, dan kemampuan recovery tubuhnya menurun. Kejadian ini mendorongnya untuk
mempelajari diet plant based lebih
dalam lagi. Hasilnya ternyata selama ini dia kekurangan vitamin B12, mineral
besi dan kalsium, asam lemak omega-3, serta protein utuh. Dia mengumpulkan
seluruh sayuran yang mengandung komponen nutrisi tersebut, mencampurnya dengan blender, lalu diminum. Ternyata cara
tersebut bekerja dengan baik. Kemampuan recovery
tubuhnya meningkat dan intensitas latihannya juga semakin berat
dibandingkan atlet lainnya. Manfaat lainnya juga dialami oleh Tom Hairabedian
(atlet penyelam) dan Victor Conda (atlet MMA). Sebagian besar atlet penyelam
harus melakukan knee replacement, hip
replacement, back surgery, dan heart
surgery pada masa tuanya, namun tidak untuk Tom Hairabedian. Hal serupa
juga dialami oleh Victor Conda yang berusia 44 tahun. Walaupun latihan enam
kali seminggu, berlari di pantai, bersepeda, melakukan banyak sparring dan turnamen, dia mengalami
lebih sedikit cedera daripada atlet MMA lain yang usianya masih sekitar 20
tahun.
Berbeda dari sebelumnya, post kali ini akan membahas tentang food waste.
Apa itu food waste?
Kita semua pasti pernah menyisakan makanan di piring kita bukan? Entah karena kenyang atau tidak nafsu makan. Sewaktu kecil, banyak dari kita yang juga pilih-pilih makanan. Nah, semua makanan yang terbuang itu disebut food waste. Tidak hanya itu, banyak restoran yang juga berkontribusi terhadap jumlah food waste. Sebagai contoh, makanan yang tidak habis terjual harus langsung dibuang dan tidak boleh dijual kembali pada keesokan harinya. Lalu apa bedanya dengan food loss? Umumnya food loss banyak terjadi pada tingkat industri. Selama pengolahan, banyak bagian dari suatu bahan yang harus dipotong atau dibersihkan untuk menghasilkan produk yang diinginkan. Menurut FAO, food loss adalah makanan yang terbuang di sepanjang rantai produksi, sedangkan food waste adalah makanan yang terbuang di akhir rantai produksi. Pada negara maju, umumnya terdapat sedikit jumlah food loss namun dengan jumlah food waste yang cukup tinggi, sedangkan pada negara berkembang berlaku sebaliknya. Supaya mendapat gambaran, FAO membuat grafik di bawah ini untuk menjelaskan jumlah food loss dan food waste di beberapa negara.
Berhubungan dengan food waste, ada sebuah penelitian menarik yang megidentifikasi berbagai faktor penting yang berpengaruh terhadap jumlah food waste di sektor jasa makanan. Judul penelitian ini adalah Elements affecting food waste in the food service sector, yang dilakukan oleh Lotta Heikkilä, Anu Reinikainen, Juha-Matti Katajajuuri, Kirsi Silvennoinen, dan Hanna Hartikainen. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang dilakukan di Finlandia. Hasilnya menunjukkan bahwa ada 8 elemen yang berpengaruh terhadap jumlah food waste di sektor jasa makanan, yaitu:
Society
Ada beberapa faktor yang berpengaruh pada perilaku masyarakat, seperti norma, nilai, dan undang-undang. Tidak hanya itu, faktor-faktor tersebut juga berpengaruh dalam pembuatan prosedur pada jasa makanan. Contohnya dalam aspek norma, kebanyakan sekolah di Finlandia mempunyai tradisi yang unik pada saat makan siang. Selain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, makanan juga dijadikan media edukasi. Selama makan siang, para guru ikut makan bersama dengan siswanya, dengan tujuan mendorong siswa untuk berani mencoba makanan yang berbeda dan menerapkan table manner yang baik dan benar. Waktu makan siang juga dijadikan kesempatan para siswa untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasinya. Dengan begitu, para siswa dapat diajarkan untuk selalu menghargai makanan, sehingga jumlah food waste dapat ditekan. Pada segi undang-undang, terdapat peraturan mengenai batas waktu untuk makanan yang disajikan di bain-marie (sebuah wadah yang di bawahnya diisi dengan air panas). Umumnya batas waktu yang ditentukan adalah 4 jam. Makanan yang disajikan melebihi batas waktu tersebut harus dibuang dan menjadi food waste. Contoh lainnya adalah National Food Act mewajibkan para pengusaha katering masal untuk melakukan manajemen risiko. Mereka harus membuat 10 hidangan setiap harinya untuk dijadikan kontrol, lalu dibuang dan menjadi food waste.
Business Concept
Konsep bisnis juga berpengaruh terhadap jumlah food waste yang dihasilkan. Contohnya adalah konsep restoran buffet. Pada konsep ini, makanan harus selalu disajikan dalam kondisi penuh dan segar sepanjang waktu. Di sisi lain, pihak restoran tidak mengetahui berapa banyak pelanggan yang akan datang pada hari itu. Akibatnya, akan ada banyak makanan yang tersisa dan harus dibuang. Salah satu jalan keluarnya adalah membuat menu atau hidangan dengan bahan yang sudah mendekati masa kadaluarsa, sehingga jumlah food waste dapat sedikit ditekan.
Product Development and Procurement
Kualitas bahan baku yang dibeli dapat mempengaruhi jumlah food waste. Sebagai contoh roti beku yang dihangatkan kembali memiliki kualitas yang lebih rendah dibandingkan dengan roti segar. Hal ini akan membuat konsumen cenderung untuk tidak memakannya, sehingga menjadi food waste. Masalah lain juga berasal dari ukuran saji (serving size) sebuah makanan. Terdapat beberapa produk yang hanya dijual dalam kemasan besar. Akibatnya, banyak konsumen yang hanya mengonsumsi sebagian dari produk tersebut, lalu disimpan hingga melewati batas kadaluarsa, dan menjadi food waste.
Management
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam aspek manajemen, seperti pembuatan resep dan ukuran saji (serving size). Formulasi resep yang kurang efektif akan menyebabkan makanan akan terus menerus dibuang dan menjadi food waste. Di sisi lain, penentuan ukuran saji (serving size) yang terlalu banyak juga dapat menambah jumlah food waste. Contoh lainnya adalah penggunaan tenaga kerja yang ahli. Ketika sebuah restoran menggunakan tenaga kerja yang ahli dalam bidangnya, maka risiko terjadinya berbagai kesalahan dapat ditekan, sehingga jumlah food waste dapat berkurang. Sebuah sistem manajemen yang baik juga harus mengatur, membuat dokumentasi, memantau, dan mengontrol jumlah food waste yang dihasilkan. Dengan demikian, pihak restoran dapat mengetahui aspek apa saja yang berpengaruh besar terhadap jumlah food waste, kemudian memperbaikinya.
Professional Skills
Keahlian setiap pekerja di dalam restoran sangat berpengaruh pada jumlah food waste yang dihasilkan. Pekerja yang kurang berpengalaman cenderung melakukan lebih banyak kesalahan, sehingga membuat makanan harus dibuang. Mereka juga dapat salah membaca resep atau orderan, sehingga makanan tidak dapat disajikan dan harus dibuang. Kemampuan pekerja dalam aspek analisis dan prediksi juga dibutuhkan. Contohnya ketika ingin membeli bahan baku, mereka harus dapat memperkirakan seberapa banyak bahan baku yang harus dibeli. Ketika jumlah yang dibeli terlalu banyak, akan terjadi penumpukan bahan baku, sehingga menjadi busuk dan harus dibuang. Contoh lainnya adalah ketika proses pembuatan makanan dibagi menjadi beberapa tahap. Untuk membagi proses tersebut, diperlukan analisa dan prediksi yang baik, sehingga setiap tahap berjalan dengan baik tanpa adanya benturan.
Diners
Makanan yang rasanya kurang enak cenderung untuk disishkan dan tidak dimakan oleh konsumen. Tidak hanya rasa, makanan yang penampilannya buruk juga cenderung untuk disisihkan oleh konsumen. Selain itu, persepsi dan harapan konsumen juga memengaruhi jumlah food waste yang dihasilkan. Ketika makanan yang disajikan tidak sesuai dengan harapan, maka konsumen akan kecewa, sehingga mereka lebih memilih untuk tidak memakannya. Perilaku setiap konsumen juga dapat menghasilkan food waste. Penelitian ini menemukan bahwa orang cenderung tidak menghargai makanan yang diberikan secara gratis, sehingga food waste lebih banyak dihasilkan. Ada juga orang yang cenderung mengambil makanan dalam jumlah yang sangat banyak melebihi kemampuannya.
Competitors
Banyaknya pesaing dengan menu yang beragam membuat sebuah restoran buffet sulit dalam menentukan jumlah makanan yang harus disajikan. Untuk dapat menarik pelanggan, pihak restoran harus selalu menyajikan makanan dalam keadaan segar, menarik, dan selalu penuh. Di sisi lain, kemungkinan pelanggan untuk beralih ke restoran lain juga tidak kecil. Jika hal tersebut terjadi, maka makanan yang sudah terlanjur disajikan akan menjadi food waste.
Communication
Tanpa komunikasi yang lancar, informasi tidak dapat beredar dengan baik. Contohnya sebuah food service memperhatikan bahwa food waste yang dihasilkan berasal dari sisa makanan yang sudah terlanjur disajikan. Dengan memahami hal tersebut, penyaji makanan dapat menjelaskan masalah tersebut ke bagian manajemen, sehingga jumlah pesanan dari central kitchen dapat dikurangi. Ada juga kemungkinan terjadinya miss communication antara supplier dengan costumer terkait masalah pembelian bahan baku. Akibatnya, bahan baku tidak dapat digunakan dan menjadi food waste. Komunikasi dari sisi internal juga diperlukan, misalnya mengenai ketersediaan bahan baku. Informasi mengenai bahan baku yang sudah mendekati tanggal kadaluarsaharus segera diberi tahu. Tujuannya agar perputaran bahan baku dapat berjalan lancar, sehingga dapat menekan jumlah food waste. Sekarang sudah tahu kan mengapa restoran banyak menghasilkan food waste? Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh si peneliti, elemen diners dan professional skills berpengaruh langsung terhadap jumlah food waste. Nah, kita yang berperan sebagai diners harus semakin sadar dan bisa berperan dalam mengurangi jumlah food waste ya!