Minggu, 03 Desember 2017

Mari Mengintip Budaya Makanan di Romawi Zaman Kuno!

Halo semuanya, post kali ini akan membahas budaya makanan bangsa Romawi pada zaman dulu. Apakah kalian sering melihat adegan seseorang yang makan dengan posisi tiduran dengan bersandar menggunakan siku tangan kirinya? Lalu tangan kanan digunakan untuk mengambil makanan-makanan yang disediakan oleh para budaknya? Ternyata adegan tersebut benar-benar ada dalam kehidupan bangsa Romawi loh! Bagi kalian yang penasaran untuk menonton film dokumenter mengenai budaya makanan bangsa Romawi, video di bawah ini sangat layak ditonton!




Ringkasan:

Bangsa Romawi merupakan pendiri pertama peradaban di Eropa, yang juga mengatur pola makan di dalamnya. Mereka mempersembahkan makanan kepada dewa dan orang mati, serta sangat menghormati para ahli makanan. Pada tahun 30 AD, makanan sudah dijual di setiap jalanan di Roma. Para ahli makanan biasanya sangat tertarik dengan bau yang tajam dari sayuran, khususnya rempah-rempah, serta daging. Salah satu ahli makanan yang terkenal adalah Marcus Gavius Epicurus, yang ditemani oleh pelayan dapurnya dalam mencari kelinci. Marcus sedang membuat resep baru yang nantinya akan dimasukkan ke dalam perjanjian besar pertama sejarah memasak. Semua ahli makanan mengetahui bahwa bahan baku yang berkualitas akan menghasilkan masakan yang berkualitas juga. Setelah semua bahan dibeli, proses percobaan langsung dilakukan di dapur. Di dapur terdapat seorang budak yang tugasnya mengikuti seluruh perintah dari para ahli makanan, yang disebut Kokos. Pada zaman romawi, tempat untuk menyiapkan makanan sangat ketat. Jika zaman sekarang kita memiliki dapur, tempat pembuatan makanan bukan merupakan hal yang penting. Hal terpenting adalah makanan dapat disajikan di meja. Ciri khas lain dari dapur bangsa Romawi adalah lokasinya yang berada di dekat toilet, dengan tujuan menampung limbah air yang dihasilkan.

Adanya kejadian erupsi Vesuvius di AD 79, memberikan informasi tentang perilaku bangsa Romawi. Sejarah yang mengatakan bahwa orang roma menghabiskan waktunya untuk makan dan pesta pora tidaklah benar. Sebaliknya, bangsa Romawi adalah orang yang sombong dan hanya makan sedikit. Hanya beberapa orang istimewa yang bisa memanjakan dirinya dengan makanan. Para orang kaya selalu makan dengan posisi bersandar menggunakan siku tangan kirinya, lalu mengambil makanan dengan tangan kanan. Terdapat juga para penyair dengan alat musiknya yang disebut Lyre, untuk menggabungkan suasana pesta dan takhayul. Selain itu, ruang makan di rumah orang kaya dianggap sebagai simbol yang mewakili dunia. Ruang makan terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu langit-langit dengan arti mewakili dunia para dewa, lalu meja untuk menyediakan makanan dengan arti sebagai bum, dan lantai dengan arti tempat untuk orang-orang terbuang atau sakit. Di sisi lain, orang-orang Romawi yang sederhana memiliki diet dengan kandungan protein yang rendah dan hanya diperkaya dengan sereal, sedangkan orang miskin mengonsumsi roti chuk. Seiring berjalannya waktu, metode peternakan berkembang, sehingga masyarakat Roma lebih sering mengonsumsi daging babi.

Dilihat dari selera makannya, orang Roma tidak terlalu menyukai anggur merah, namun menyukai anggur putih. Pada waktu itu anggur dibuat dengan cara menginjak-injak buah anggur, lalu ditekan dengan alat berat yang menggunakan sistem katrol. Setelah itu cairan anggur dimurnikan, ditambahkan madu, serta sedikit diasinkan dengan air laut untuk menambah cita rasa. Di lain sisi, orang Roma menyukai makanan laut dan tidak bergantung pada kaldu sapi, ayam, babi, dan sejenisnya. Hal ini dapat dibuktikan dari lokasi Roma yang dekat dengan laut, serta armadanya yang besar. Keunikan bangsa Romawi dalam mengolah ikan adalah tidak ada satu pun bagian yang dibuang. Mulai dari kepala hingga jeroan, semuanya ditekan dan disaring untuk dijadikan saus. Makanan ternyata tidak hanya berguna bagi tubuh, tetapi juga dapat menyulut perang. Permasalahan buah ara membuat para senator kecewa, sehingga mengusulkan peperangan. Berhubungan dengan perang, seorang prajurit harus makan makanan berkualitas agar mendapatkan energi dan kekuatan untuk melawan musuh. Sayuran kering yang selalu dibawa merupakan alasan dibalik banyaknya kemenangan dari prajurit Romawi. Selain prajurit, pola makan juga berpengaruh terhadap performa seorang gladiator. Mereka tidak mengonsumsi pasta, namun hanya mengonsumsi sereal, spelt (gandum yang dikuliti), dan buncis. Makanan-makanan tersebut mampu memberikan kekuatan dan energi.

Minggu, 19 November 2017

Ternyata Banyak Makanan Indonesia yang 'Palsu'

Halo semuanya, saya harap kalian semua tidak kaget ketika membaca judul dari post kali ini. Maksud dari kata palsu itu adalah pembauran, karena banyak budaya makanan di Indonesia yang sebenarnya merupakan hasil dari pembauran loh! Lalu apa maksudnya? Ada dua pola pembauran yang terjadi pada budaya makanan Indonesia, yaitu akulturasi dan asimilasi. Apa sih maksudnya?

Akulturasi adalah pencampuran antara dua atau lebih budaya yang saling bertemu dan saling memengaruhi sehingga menjadi satu, lalu bertahan dalam waktu yang lama. Budaya di Indonesia mendapat pengaruh dari budaya asing, yang masih terjadi hingga sekarang. Seiring berjalannya waktu, budaya asing tersebut semakin membaur dengan budaya Indonesia. Hal ini menyebabkan terbentuknya budaya baru dengan tetap mengandung budaya asli Indonesia.



Lapis legit merupakan salah satu contohnya. Seperti yang sudah diceritakan pada beberapa post sebelumnya, lapis legit sebenarnya merupakan makanan yang berasal dari Belanda, yang bernama spekkoek (spekuk). Dengan menggunakan rempah-rempah yang hanya ada di Indonesia, yaitu kayu manis, cengkeh, kapulaga, dan pekak, spekkoek dimodifikasi agar sesuai dengan lidah masyarakat Indonesia. Dengan kata lain, spekkoek telah mengalami akulturasi menjadi lapis legit.


Contoh lainnya adalah bakso. Siapa yang sangka bahwa kuliner populer ini sebenarnya bukan asli Indonesia? Iya, bakso sebenarnya berasal dari China. Bakso yang asli terbuat dari daging babi. Namun karena mayoritas masyarakat Indonesia merupakan penganut agama islam, maka daging babi diganti dengan daging sapi, ayam, ataupun ikan. 


Asimilasi serupa dengan akulturasi, namun salah satu budayanya lebih dominan. Jadi, asimilasi adalah pembauran dua kebudayaan, namun ciri khas dari salah satu budaya tersebut hilang, sehingga membentuk budaya yang baru.


Salah satu fenomena asimilasi dapat dirasakan ketika musim lebaran. Bagi kalian yang merayakan lebaran, pasti sudah tidak asing dengan yang namanya kue kering kan? Lidah Kucing, Nastar, Bola Cokelat, Semprit, Putri Salju, Sagu Keju, dan kue kering lainnya pasti bertebaran di meja rumah. Namun apakah kalian tahu bahwa kue kering sebenarnya merupakan tradisi umat Kristen pada saat merayakan hari natal? Akibat terjadinya asimilasi budaya, kue kering menjadi makanan wajib saat lebaran.

Minggu, 12 November 2017

Fenomena Pola Pangan Dunia, Baik apa Buruk?

Halo semuanya, pada post kali ini saya akan memberikan sejumlah informasi mengenai penyebab bervariasinya pola pangan di dunia. Saya harap informasi ini dapat memperluas wawasan dan menambah sudut pandang kalian terhadap pola pangan di dunia ini. Banyak penelitian sosial yang mempelajari mengapa pola pangan di suatu tempat bisa jauh berbeda dengan tempat lainnya. Tidak hanya itu, dalam satu daerah pun terdapat berbagai macam pola pangan. Lalu faktor apa saja yang mempengaruhi pola pangan dunia?

Tingkat Pendapatan/Penghasilan


Terlihat jelas bagaimana aspek ini dapat memengaruhi pola pangan di dunia. Seseorang, kelompok, atau sebuah keluarga dengan tingkat pendapatan yang rendah pasti memiliki keterbatasan untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Jika mereka ingin membeli makanan yang berkualitas, tentu penghasilan mereka tidak akan cukup untuk membeli buah dan sayuran. Hal ini mendorong terbentuknya pola konsumsi yang mengutamakan kuantitas dari pada kualitas. Segala sesuatu yang mereka makan didasarkan pada tujuan untuk mengenyangkan perut, bukan untuk menyehatkan tubuh. Di negara maju seperti Amerika Serikat, kaum ini banyak mengonsumsi junk food, sementara di Indonesia, kaum ini banyak mengonsumsi makanan pinggiran seperti warteg, gorengan, nasi pecel, dan sebagainya. Sebaliknya, mereka dengan tingkat pendapat yang tinggi memiliki kuasa yang lebih untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Mereka cenderung selektif terhadap makanan apa yang masuk ke dalam tubuhnya. Hal ini membuat mereka cenderung untuk mengutamakan kualitas dari pada kuantitas. Makanan yang mereka pilih adalah buah, sayuran, dan masakan berkualitas lainnya.

Tingkat Pendidikan


Berhubungan dengan aspek sebelumnya, tingkat pendidikan juga jelas memengaruhi pola pangan. Meskipun sama-sama berpenghasilan rendah, seseorang dengan tingkat pendidikan tinggi tentu memiliki pola pangan yang berbeda dengan seseorang yang tidak berpendidikan. Mereka yang berpendidikan mengetahui ilmu mengenai nutrisi, sehingga lebih sadar akan kesehatan. Hal ini tentu tidak berlaku bagi mereka yang tidak berpendidikan. Lebih buruk lagi, mereka bisa menganggap segala sesuatu yang mereka makan itu sehat, karena 'tidak pernah' membuat mereka sakit. Sebagai contoh, seorang sarjana ilmu kesehatan yang baru lulus, kemudian pulang kembali ke desanya. Orang ini sudah mengetahui bahwa jeroan tidak sehat bagi kesehatan, namun orang tua dan teman-temannya masih menganggap jeroan itu menyehatkan tubuh. Contoh lainnya, seorang bodybuilder tentu memiliki pola pangan yang berbeda dengan seorang pekerja kantoran. Untuk meningkatkan massa otot, seorang bodybuilder tahu bahwa mereka harus mengonsumsi makanan tinggi protein, dengan jumlah sekitar 1.5 kali bobot tubuhnya. Dibandingkan dengan pekerja kantoran, mereka hanya makan untuk kenyang tanpa memperhatikan kandungan protein dari makanan tersebut.

Agama


Aspek lainnya yang juga terlihat jelas dalam memengaruhi pola pangan adalah aspek agama. Jelas untuk penganut agama Muslim untuk tidak mengonsumsi babi, sedangkan penganut agama Hindu untuk tidak mengonsumsi sapi.

Usia dan Penyakit


Umumnya, seseorang yang semakin tua akan semakin selektif terhadap apa yang mereka makan. Hal ini disebabkan oleh munculnya berbagai penyakit yang membatasi gairah makan mereka. Sebagai contoh, seseorang yang diabetes sudah pasti tidak mengonsumsi makanan yang tinggi kandungan gulanya, atau bahkan menghindari makanan yang mengandung gula. Meskipun tidak selalu, banyak juga orang muda yang sudah mengidap berbagai jenis penyakit. Hal ini juga pasti memengaruhi pola pangannya.

Politik


Aspek ini mungkin tidak pernah terbayang pengaruhnya terhadap pola pangan. Salah satu contoh yang dapat menggambarkan adalah sertifikasi halal. Bagi penganut agama Islam, adanya label halal dalam sebuah produk pangan sangat menentukan minat pembelian. Banyak dari mereka yang tidak jadi membeli suatu produk pangan yang tidak ada label halalnya. Sebaliknya, adanya label halal dalam suatu produk membuat seorang Muslim tertarik untuk membelinya secara terus menerus. Contoh lainnya adalah pencantuman label komposisi nutrisi. Bagi seseorang yang peduli tentang kandungan gizi, tidak adanya label nutrisi dalam produk membuat dia tidak jadi untuk membeli produk tersebut.

Minggu, 22 Oktober 2017

Raw Food, Diet Kekinian yang Bisa Menyembuhkan Diabetes

Halo semuanya! Pada kali ini kita akan berkenalan dengan sebuah diet unik yang mulai ngetrend belakangan ini. Nama diet tersebut adalah raw food diet, yaitu diet yang hanya mengonsumsi makanan 'hidup'. Apa maksudnya makanan 'hidup'? Makanan 'hidup' adalah buah, sayur, dan biji-bijian yang diolah tanpa menggunakan panas sama sekali, sehingga enzim-enzim di dalam makanan tersebut masih hidup dan bisa membantu kinerja tubuh kita. Mereka yang menerapkan diet ini percaya bahwa makanan yang 'hidup' akan membuat tubuh dan jiwa kita menjadi lebih hidup juga. Penasaran kan sama raw food diet? Bagi kalian yang ingin nonton langsung testimoni berbagai artis hollywood, atlet, dokter, dan bahkan orang yang berhasil sembuh dari diabetes akibat menerapkan diet ini, berikut adalah link dari videonya. Jika durasi filmnya terlalu lama, kalian dapat membaca ringkasan yang akan dijelaskan di bawah ini.


Starting Out
Memulai diet raw food memang sulit, tetapi bukan berarti mustahil untuk dilakukan. Anthony Robbins mengatakan bahwa ada titik perubahan di dalam hidup manusia. Pada saat orang-orang mengonsumsi segala macam makanan yang mereka suka, akan datang waktunya ketika mereka bosan dan tidak lagi mendapatkan manfaat yang diinginkan. Keadaan tersebut dapat disebut sebagai titik jenuh. Ketika sampai di titik jenuh, orang akan terdorong untuk mencari hal baru di dalam hidup mereka dan sebagian dari mereka menanggapinya dengan mengubah pola makannya. Peristiwa ini merupakan peluang seseorang untuk berubah, namun tidak sedikit orang yang mengabaikan peluang tersebut dan kembali terjebak pada pola makan yang lama. Mereka yang mengambil peluang tersebut bisa mencoba melakukan diet raw food. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah hilangkan seluruh produk yang berwarna putih seperti gula dan tepung terigu. Jika kita tidak bisa melakukan semuanya dalam satu hari, maka lakukan secara bertahap dan menggantinya dengan makanan alami. Kita juga bisa memulainya dari raw food yang disukai, lalu nikmati prosesnya secara perlahan. Hal tersebut akan membuat kita secara perlahan-lahan menikmati manfaat positif yang dihasilkan, dan mendorong kita untuk melakukan diet tersebut dengan lebih baik lagi.
Terdapat beberapa fenomena menarik yang terjadi ketika seseorang menerapkan diet raw food. Contohnya adalah seorang atlet triatlon Branden Brazier yang banyak mengonsumsi makanan tinggi kalori, namun tetap merasa letih. Seharusnya makanan berkalori tinggi seperti selai kacang dan roti, akan memberikan energi yang tinggi pula. Namun setelah beralih ke diet raw food, permasalahan tersebut hilang. Meskipun mengonsumsi kalori 20-30% lebih sedikit dari diet sebelumnya, Branden mendapatkan energi yang lebih banyak. Hal ini dikarenakan selai kacang dan roti merupakan makanan berat yang sulit dicerna, sehingga energi di dalam tubuhnya habis hanya untuk mencerna. Contoh lainnya terjadi pada Woody Harrelson yang merupakan lactose intolerant. Dia memiliki banyak jerawat dan warna merah di wajahnya yang tidak pernah sembuh. Sudah banyak dokter dan spesialis kulit yang dia datangi, namun tidak satu pun yang tahu penyebabnya. Sampai suatu saat ada seorang wanita yang mengatakan bahwa Woody seorang lactose intolerant. Pada saat itu juga dia berhenti konsumsi susu beserta produk turunanya, dan masalah kulitnya pun hilang dan tidak pernah muncul lagi.

Wisdom of Eating Raw
Pada zaman yang semakin modern ini, pemerintah dan para pelaku bisnis lainnya memberikan banyak pengaruh terhadap keyakinan kita. Contohnya seperti American Dairy Association dan American Meat Packers Association yang menekankan bahwa manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa produk hewani. Menurut orang-orang yang menerapkan diet raw food, hal tersebut tidaklah benar. Lillian Muller mengatakan bagaimana mungkin seseorang bisa sehat dengan memasukkan daging hewan mati ke dalam tubuhnya. Karyn Calabrese juga mengatakan bahwa makan daging hewan mati bukanlah naluri alamiah manusia. Seseorang yang terdampar di dalam pulau terpencil dan di depannya tersedia sapi mati dan sekeranjang apel, pasti akan memilih apel untuk dimakannya. Berbeda dengan anjing yang merupakan hewan karnivora, mereka secara alamiah akan memakan daging hewan mati. Berbagai industri lainnya seperti obat-obatan dan medis juga berhasil membutakan masyarakat. Mereka membuat orang berpikir bahwa dengan mengonsumsi obat-obatan dan perawatan medis lainnya, tubuh mereka akan menjadi lebih baik. Bahkan jurnal-jurnal medis yang beredar pun diragukan kebenarannya, karena sebagian besar ilmuwan dikendalikan oleh para pemain industri.
Dengan mengonsumsi produk hewani, artinya kita secara tidak langsung membunuh hewan. Lilian Muller mengatakan bahwa jika kita tidak membeli dan memberikan uang kepada penjual daging, maka tidak ada permintaan yang mendorong terjadinya pembunuhan dan pemotongan hewan. Sebaliknya ketika kita mengonsumsi raw food, hal ini merupakan win-win solution ke segala pihak. Dengan menerapkan diet raw food, tubuh kita diuntungkan, keluarga kita diuntungkan, para petani organik diuntungkan, dan para penjual produk organik diuntungkan. Rod Rotondi mengatakan semua ini bukan hanya tentang raw food, tetapi gaya hidup. Ketika kita memulai hal yang baik, semua orang akan melakukan hal yang sama, maka dunia akan menjadi tempat yang lebih baik. Ada dua kereta dengan dua arah yang berlawanan. Kereta pertama menuju ke arah kematian, kesakitan, kerusakan, dan kebencian, sedangkan kereta kedua menuju ke arah cinta, tawa, kebahagiaan, kesenangan, kecantikan, dan umur panjang. Ada banyak pilihan tersedia di depan mata kita dan sebaiknya kita memilih pilihan tersebut dengan segenap hati dan jiwa.

Beating Diabetes
Di Amerika, banyak sekali populasi obesitas dan orang yang mengonsumsi obat-obatan. Akibatnya, diabetes tipe 2 telah berkembang tiga kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Meskipun menurut American Diabetes Association diabetes merupakan penyakit paling mematikan ke lima di Amerika Serikat, diabetes tetaplah merupakan penyakit gaya hidup. Banyak orang mengira bahwa diabetes tidak bisa disembuhkan dan ternyata pemikiran tersebut tidak benar. Hal ini dibuktikan oleh Kirt Tyson yang berhasil sembuh dari diabetes. Dia sempat didiagnosis mengidap penyakit diabetes tipe 1. Berdasarkan saran dari dokter Gabriel Cousens, dia menerapkan diet raw food dan mengonsumsi suplemen selama 30 hari. Hasilnya adalah tingkat gula darahnya kembali normal dan Kirt tidak lagi memerlukan insulin.
Untuk mengurangi gejala diabetes, kita harus benar-benar menyelesaikan akar permasalahannya. Diabetes itu disebabkan oleh konsumsi gula, produk hewani, dairy, dan kafein dalam jumlah yang tinggi. Selain itu, rokok, pestisida, dan logam berat juga mengganggu kerja insulin. Gary Null, Ph. D. mengatakan bahwa kita harus menganggap diabetes adalah sebuah kata kerja, bukan kata benda. Artinya, ketika kita ‘sedang melakukan diabetes’, seluruh aktivitas dan gaya hidup kita mendukung untuk menghadirkan penyakit diabetes. Diabetes memang mematikan, tetapi dia tidak datang sendirian. Banyak faktor lain yang mendukung munculnya diabetes dalam tubuh kita, seperti spiritual, emosi, intelektual, dan berbagai faktor lainnya. Ketika kita hanya fokus untuk menyembuhkan diabetes, sesungguhnya kita hanya melakukan sebagian kecil dari metode penyembuhan diabetes yang sebenarnya. Dengan kata lain, diabetes itu bisa dicegah dengan cara mengubah pola hidup kita.

Health and Wellness
Menurut David Wolfe, orang yang gila adalah orang yang melakukan sesuatu berulang-ulang tetapi mengharapkan hasil yang berbeda. Berdasarkan definisi tersebut, banyak orang gila di dunia ini. Mereka berharap untuk tidak sakit, tetapi terus menyiksa tubuhnya dengan pola hidup yang buruk. Minum alkohol, merokok, makan makanan olahan, dan jarang olah raga merupakan pola hidup orang zaman sekarang. Ketika Gabriel Cousen sedang melakukan penelitian biokimianya, tiba-tiba dia terpikir untuk menyelam lebih dalam ilmu penyembuhan. Dia berpikir dan percaya bahwa orang bisa disembuhkan secara permanen, terutama sebelum mereka mencapai usia 60 tahun. Kunci untuk mencapai hal tersebut adalah perubahan pola hidup. Fred Bisci, Ph. D. merupakan konsultan nutrisi yang banyak sekali didatangi orang-orang sakit. Selama menanggapi mereka, Fred hanya fokus terhadap perubahan pola hidup. Dia mengatakan bahwa tubuh manusia merupakan mesin penyembuh yang paling ampuh. Hanya ada satu hal yang perlu dilakukan, yaitu menempatkan tubuh tersebut di lingkungan yang tepat, maka penyembuhan akan terjadi dengan baik. Hal serupa juga dikatakan oleh Joel Fuhrman, M. D. yang merupakan seorang dokter. Ketika kita menghilangkan sumber penyakit, maka secara alami tubuh kita akan memperbaiki dirinya sendiri. Berdasarkan pengalaman Bruce Lipton, Ph. D., penyakit yang paling sering ditemukan adalah penyakit kardiovaskular dan kanker. Padahal dengan mengubah pola hidup, risiko penyakit kardiovaskular dan kanker dapat diturunkan sebanyak 90% dan 60%.
Seorang dokter bisa saja memberikan pil untuk meningkatkan atau menurunkan tekanan darah, jumlah urin, gula darah, membuat orang tidur lelap, dan berbagai fungsi lainnya. Tetapi yang harus diperhatikan adalah kemanjuran pil tersebut berbanding lurus dengan sifat toksisitasnya. Obat-obatan sebenarnya bukan menyembuhkan, tetapi menghambat berbagai reaksi di dalam tubuh agar kita tidak merasa sakit. Sering juga kita melihat pasien yang berpindah dari satu jenis obat ke jenis obat lainnya. Hal tersebut membuktikan bahwa obat-obatan sebenarnya tidak menyembuhkan seseorang. Di sisi lain, gejala-gejala penyakit yang timbul biasanya merupakan hasil dari reaksi tubuh dalam menyingkirkan senyawa beracun di dalamnya. Kesimpulannya, kesehatan itu berasal dari apa yang masuk ke dalam tubuh kita. Karyn Calabrese yang dulunya menerapkan Standard American Diet, mengalami berbagai masalah kesehatan. Dia sering mengalami konstipasi yang parah, kesehatan kulitnya terganggu, pikirannya tidak jernih, serta mengalami premenstrual syndrome (PMS). Namun setelah mengubah pola hidupnya dan menerapkan diet raw food, kesehatannya berubah drastis. Sekarang Karyn menjalani lima hingga enam bisnis dan tidur hanya 3-4 jam sehari, namun dia tidak pernah merasa kelelahan. Tidak seperti wanita lain pada umumnya, kerutan dan kegemukan juga tidak didapatkan oleh Karyn ketika usianya bertambah. Seorang ahli nutrisi, Mike Adams, menemukan orang yang menerapkan diet raw food secara parsial ataupun menyeluruh, bebas dari kanker, diabetes, penyakit jantung, dan depresi. Dia juga melihat banyak orang tidak lagi mengonsumsi obat-obatnya setelah menerapkan diet raw food selama 3-4 minggu.

Weight Reduction
Kaum obesitas di dunia paling banyak ditemukan di Amerika Serikat dan masih akan terus bertambah jumlahnya. Mereka adalah orang yang kecanduan makanan, gula, lemak jenuh, fast foods, dan berbagai makanan olahan lainnya. Ditambah lagi, anak-anak obesitas juga banyak ditemukan di Amerika Serikat. Menurut Anthony Robbins, kecanduan adalah kebutuhan yang tidak terpenuhi. Kecanduan tidak buruk asalkan kita mengisinya dengan hal yang baik. Ketika kita bisa mendapatkan alternatif cara yang positif untuk mengisi kecanduan yang sama, maka kehidupan kita berubah menjadi lebih baik. Salah satu alasan banyaknya orang kecanduan makanan dijelaskan oleh Joel Fuhrman. Sebanyak 51% kalori pada diet orang Amerika berasal dari makanan olahan, dan 40%nya berasal dari daging yang tidak mengandung vitamin E, C, dan K, folat, antioksidan, bioflavonoid dan lignin. Artinya sebagian besar orang Amerika hanya memenuhi kebutuhan nutrisi makro dan sangat kekurangan nutrisi mikro. Ketika kekurangan nutrisi mikro, maka tubuh kita akan cenderung meminta nutrisi makro yang lebih banyak lagi, sehingga mendorong orang untuk makan lebih banyak lagi dan menjadi obesitas. Hal ini dirasakan oleh Angela Stokes yang dulunya memiliki berat badan 300 pon. Pada awalnya, Angela adalah seorang yang obesitas dengan pola makan yang sangat buruk. Satu bukanlah angka yang tepat untuk jumlah porsi makanannya. Dia sering sekali pergi ke Mc Donalds dan Burger King untuk memenuhi nafsu makannya. Akhirnya pada May 2002, Angela dipinjamkan buku berjudul Raw Family oleh temannya. Buku tersebut mengubah hidupnya dengan mendorongnya untuk menerapkan diet raw food. Hasilnya adalah berat badannya turun sebanyak 160 pon dan banyak orang kagum melihat perubahan yang dialaminya.
Tidak hanya menurunkan berat badan, diet raw food akan membawa tubuh kita ke berat alaminya. Orang gemuk akan menjadi kurus, sementara orang kurus akan menjadi semakin kuat. Banyak orang yang ingin kurus dan menerapkan berbagai macam diet yang tidak memberikan hasil. Lillian Muller berkata bahwa dengan mengikuti diet raw food, kita tidak perlu memikirkan berat badan kita. Tubuh kita secara alami akan kembali ke berat normalnya asalkan kita melakukan diet raw food dan memperhatikan asupan garam. Tidak hanya kurus, tubuh kita juga akan semakin cantik, sehat, dan panjang umur. Anthony Muller juga menunjukkan bahwa diet raw food memberikan keuntungan dari segi energi. Alive food adalah makanan yang terkonsentrasi. Tubuh kita tidak perlu mengeluarkan energi yang banyak untuk mencernanya, namun mendapatkan energi yang signifikan. Hasilnya, tubuh kita mendapatkan kelebihan energi yang bisa digunakan untuk membersihkan racun yang menumpuk. Sebaliknya ketika kita mengonsumsi daging, energi di dalam tubuh kita akan habis hanya untuk mencerna. Inilah yang membedakan raw food dari makanan olahan atau produk hewani lainnya. Selain itu, makanan harusnya dicerna selama 3-4 jam, tetapi kebanyakan orang mencernanya selama 7-8 jam karena makan yang berlebihan. Kita juga mengonsumsi kopi, soda, dan gula, yang sebenarnya tubuh kita tidak tahu cara mencernanya. Anthony mengatakan jika kita ingin merasakan alive, konsumsilah alive foods.

Detox and Cleansing
Racun merupakan senyawa yang buruk bagi tubuh manusia. Sebagian besar racun berasal dari produk hewani dan berbagai produk olahan. Seorang ahli biologi sel, yaitu Bruce Lipton, Ph. D., mengatakan bahwa racun akan mengganggu sistem sinyal di dalam tubuh manusia. Sistem sinyal manusia itu terjadi karena adanya berbagai senyawa kimia beserta jalur reaksinya. Ketika racun yang juga merupakan senyawa kimia masuk ke dalam tubuh kita, dia akan mengganggu sistem sinyal tubuh, sehingga timbul berbagai macam penyakit. Oleh karena itu kita harus melakukan detoksifikasi, yaitu proses pengeluaran racun dari dalam tubuh kita. Detoksifikasi merupakan hal yang sulit untuk dilakukan. Rev. Michael Beckwith mengatakan bahwa ketika seseorang mengganti pola hidupnya, seluruh pola di dalam sistem selnya juga berubah. Proses perubahan ini sering menimbulkan berbagai reaksi yang menyiksa tubuh kita. Hal ini dialami oleh Morgan Spurlock yang merupakan direktur film dokumenter berjudul Super Size Me. Setelah selesai dari diet buruknya, yaitu konsumsi McDonalds dalam 30 hari berturut-turut, dia ditawarkan istrinya untuk mencoba diet vegan detox, yaitu diet yang hanya mengonsumsi buah, sayur, serta gandum dan biji-bijian secara utuh. Segala makanan olahan seperti kafein, gula, junk food, dan sebagainya tidak boleh dikonsumsi. Setelah beberapa hari menjalankan diet ini, tubuh Morgan Spurlock mengalami proses detoksifikasi massal seperti pecandu narkoba. Dia merasa pusing seperti dipukul-pukul, tubuhnya bergetar dan berkeringat selama berhari-hari. Setelah tiga hari, gejala-gejala tersebut mereda dan tubuhnya mulai membaik. Hasilnya ternyata memuaskan, tingkat kolesterol dan tekanan darahnya kembali normal, serta kerja hatinya juga kembali normal. David Wolfe mengatakan seluruh proses itu disebut sebagai episode detoksifikasi. Proses tersebut diumpamakan sebagai bentuk protes tubuh kita untuk mengeluarkan seluruh sampah yang ada di dalamnya. Untuk melakukannya, seseorang harus memiliki keinginan yang kuat agar dapat melewati fase tersebut. Seorang ahli kesehatan dan nutrisi Gary Null, Ph. D. mengatakan bahwa sekitar empat sampai lima hari pertama dari proses detoksifikasi, kita akan mengalami mood swing, energy swing, blood sugar swing, dan berbagai perubahan reaksi biokimia lainnya. Namun proses detoksifikasi yang sebenarnya terjadi selama dua tahun. Sel itu memiliki telomer dan kromosom yang diumpamakan sebagai jam usia. Ketika sel itu rusak, maka jam usia kita akan berputar semakin cepat dan tubuh kita berada dalam proses pembentukan penyakit. Untuk memutarbalikkan proses tersebut, kita harus memperbaiki DNA kita dan dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk melakukannya.

Optimal Athletic Performance
Tidak hanya baik bagi tubuh, diet raw food juga bermanfaat bagi seorang atlet. Dengan mengonsumsi raw food, tubuh kita tidak perlu lagi menggunakan energinya untuk memproduksi enzim. Keuntungannya, energi tersebut bisa digunakan tubuh untuk aktivitas lainnya, seperti proses recovery yang lebih baik. Seorang atlet triatlon Brendan Brazier awalnya mengira bahwa kunci kesuksesan seorang atlet berasal dari metode latihannya. Dia mengamati dan membandingkan metode latihan seorang atlet profesional dengan atlet amatir. Ternyata metode latihan dari kedua jenis atlet tersebut tidak jauh berbeda. Ternyata perbedaannya berada pada sesi antar latihannya, yaitu proses recovery dan nutrisi berperan besar dalam proses tersebut. Brendan Brazier sudah mencoba berbagai jenis diet seperti tinggi protein, rendah protein, tinggi karbohidrat, atau rendah karbohidrat. Satu jenis diet memang lebih baik dari jenis lainnya, tetapi tidak satu pun dari jenis diet tersebut dapat dikatakan sangat baik. Akhirnya dia mencoba diet plant based dengan tidak mengonsumsi produk hewani, dairy, telur, ataupun madu. Pada awalnya diet tersebut tidak berjalan dengan baik. Dia menjadi lebih cepat lelah, lesu, dan kemampuan recovery tubuhnya menurun. Kejadian ini mendorongnya untuk mempelajari diet plant based lebih dalam lagi. Hasilnya ternyata selama ini dia kekurangan vitamin B12, mineral besi dan kalsium, asam lemak omega-3, serta protein utuh. Dia mengumpulkan seluruh sayuran yang mengandung komponen nutrisi tersebut, mencampurnya dengan blender, lalu diminum. Ternyata cara tersebut bekerja dengan baik. Kemampuan recovery tubuhnya meningkat dan intensitas latihannya juga semakin berat dibandingkan atlet lainnya. Manfaat lainnya juga dialami oleh Tom Hairabedian (atlet penyelam) dan Victor Conda (atlet MMA). Sebagian besar atlet penyelam harus melakukan knee replacement, hip replacement, back surgery, dan heart surgery pada masa tuanya, namun tidak untuk Tom Hairabedian. Hal serupa juga dialami oleh Victor Conda yang berusia 44 tahun. Walaupun latihan enam kali seminggu, berlari di pantai, bersepeda, melakukan banyak sparring dan turnamen, dia mengalami lebih sedikit cedera daripada atlet MMA lain yang usianya masih sekitar 20 tahun. 

Minggu, 08 Oktober 2017

Journal Review: Elements affecting food waste in the food service sector

Berbeda dari sebelumnya, post kali ini akan membahas tentang food waste.

Apa itu food waste?

Kita semua pasti pernah menyisakan makanan di piring kita bukan? Entah karena kenyang atau tidak nafsu makan. Sewaktu kecil, banyak dari kita yang juga pilih-pilih makanan. Nah, semua makanan yang terbuang itu disebut food waste. Tidak hanya itu, banyak restoran yang juga berkontribusi terhadap jumlah food waste. Sebagai contoh, makanan yang tidak habis terjual harus langsung dibuang dan tidak boleh dijual kembali pada keesokan harinya. Lalu apa bedanya dengan food loss? Umumnya food loss banyak terjadi pada tingkat industri. Selama pengolahan, banyak bagian dari suatu bahan yang harus dipotong atau dibersihkan untuk menghasilkan produk yang diinginkan. Menurut FAO, food loss adalah makanan yang terbuang di sepanjang rantai produksi, sedangkan food waste adalah makanan yang terbuang di akhir rantai produksi. Pada negara maju, umumnya terdapat sedikit jumlah food loss namun dengan jumlah food waste yang cukup tinggi, sedangkan pada negara berkembang berlaku sebaliknya. Supaya mendapat gambaran, FAO membuat grafik di bawah ini untuk menjelaskan jumlah food loss dan food waste di beberapa negara.

Berhubungan dengan food waste, ada sebuah penelitian menarik yang megidentifikasi berbagai faktor penting yang berpengaruh terhadap jumlah food waste di sektor jasa makanan. Judul penelitian ini adalah Elements affecting food waste in the food service sector, yang dilakukan oleh Lotta Heikkilä, Anu Reinikainen, Juha-Matti Katajajuuri, Kirsi Silvennoinen, dan Hanna Hartikainen. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang dilakukan di Finlandia. Hasilnya menunjukkan bahwa ada 8 elemen yang berpengaruh terhadap jumlah food waste di sektor jasa makanan, yaitu:
  • Society
Ada beberapa faktor yang berpengaruh pada perilaku masyarakat, seperti norma, nilai, dan undang-undang. Tidak hanya itu, faktor-faktor tersebut juga berpengaruh dalam pembuatan prosedur pada jasa makanan. Contohnya dalam aspek norma, kebanyakan sekolah di Finlandia mempunyai tradisi yang unik pada saat makan siang. Selain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, makanan juga dijadikan media edukasi. Selama makan siang, para guru ikut makan bersama dengan siswanya, dengan tujuan mendorong siswa untuk berani mencoba makanan yang berbeda dan menerapkan table manner yang baik dan benar. Waktu makan siang juga dijadikan kesempatan para siswa untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasinya. Dengan begitu, para siswa dapat diajarkan untuk selalu menghargai makanan, sehingga jumlah food waste dapat ditekan. Pada segi undang-undang, terdapat peraturan mengenai batas waktu untuk makanan yang disajikan di bain-marie (sebuah wadah yang di bawahnya diisi dengan air panas). Umumnya batas waktu yang ditentukan adalah 4 jam. Makanan yang disajikan melebihi batas waktu tersebut harus dibuang dan menjadi food waste. Contoh lainnya adalah National Food Act mewajibkan para pengusaha katering masal untuk melakukan manajemen risiko. Mereka harus membuat 10 hidangan setiap harinya untuk dijadikan kontrol, lalu dibuang dan menjadi food waste.   
  • Business Concept
Konsep bisnis juga berpengaruh terhadap jumlah food waste yang dihasilkan. Contohnya adalah konsep restoran buffet. Pada konsep ini, makanan harus selalu disajikan dalam kondisi penuh dan segar sepanjang waktu. Di sisi lain, pihak restoran tidak mengetahui berapa banyak pelanggan yang akan datang pada hari itu. Akibatnya, akan ada banyak makanan yang tersisa dan harus dibuang. Salah satu jalan keluarnya adalah membuat menu atau hidangan dengan bahan yang sudah mendekati masa kadaluarsa, sehingga jumlah food waste dapat sedikit ditekan.
  • Product Development and Procurement
Kualitas bahan baku yang dibeli dapat mempengaruhi jumlah food waste. Sebagai contoh roti beku yang dihangatkan kembali memiliki kualitas yang lebih rendah dibandingkan dengan roti segar. Hal ini akan membuat konsumen cenderung untuk tidak memakannya, sehingga menjadi food waste. Masalah lain juga berasal dari ukuran saji (serving size) sebuah makanan. Terdapat beberapa produk yang hanya dijual dalam kemasan besar. Akibatnya, banyak konsumen yang hanya mengonsumsi sebagian dari produk tersebut, lalu disimpan hingga melewati batas kadaluarsa, dan menjadi food waste.
  • Management
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam aspek manajemen, seperti pembuatan resep dan ukuran saji (serving size). Formulasi resep yang kurang efektif akan menyebabkan makanan akan terus menerus dibuang dan menjadi food waste. Di sisi lain, penentuan ukuran saji (serving size) yang terlalu banyak juga dapat menambah jumlah food waste. Contoh lainnya adalah penggunaan tenaga kerja yang ahli. Ketika sebuah restoran menggunakan tenaga kerja yang ahli dalam bidangnya, maka risiko terjadinya berbagai kesalahan dapat ditekan, sehingga jumlah food waste dapat berkurang. Sebuah sistem manajemen yang baik juga harus mengatur, membuat dokumentasi, memantau, dan mengontrol jumlah food waste yang dihasilkan. Dengan demikian, pihak restoran dapat mengetahui aspek apa saja yang berpengaruh besar terhadap jumlah food waste, kemudian memperbaikinya. 
  • Professional Skills 
Keahlian setiap pekerja di dalam restoran sangat berpengaruh pada jumlah food waste yang dihasilkan. Pekerja yang kurang berpengalaman cenderung melakukan lebih banyak kesalahan, sehingga membuat makanan harus dibuang. Mereka juga dapat salah membaca resep atau orderan, sehingga makanan tidak dapat disajikan dan harus dibuang. Kemampuan pekerja dalam aspek analisis dan prediksi juga dibutuhkan. Contohnya ketika ingin membeli bahan baku, mereka harus dapat memperkirakan seberapa banyak bahan baku yang harus dibeli. Ketika jumlah yang dibeli terlalu banyak, akan terjadi penumpukan bahan baku, sehingga menjadi busuk dan harus dibuang. Contoh lainnya adalah ketika proses pembuatan makanan dibagi menjadi beberapa tahap. Untuk membagi proses tersebut, diperlukan analisa dan prediksi yang baik, sehingga setiap tahap berjalan dengan baik tanpa adanya benturan.
  • Diners
Makanan yang rasanya kurang enak cenderung untuk disishkan dan tidak dimakan oleh konsumen. Tidak hanya rasa, makanan yang penampilannya buruk juga cenderung untuk disisihkan oleh konsumen. Selain itu, persepsi dan harapan konsumen juga memengaruhi jumlah food waste yang dihasilkan. Ketika makanan yang disajikan tidak sesuai dengan harapan, maka konsumen akan kecewa, sehingga mereka lebih memilih untuk tidak memakannya. Perilaku setiap konsumen juga dapat menghasilkan food waste. Penelitian ini menemukan bahwa orang cenderung tidak menghargai makanan yang diberikan secara gratis, sehingga food waste lebih banyak dihasilkan. Ada juga orang yang cenderung mengambil makanan dalam jumlah yang sangat banyak melebihi kemampuannya.
  • Competitors
Banyaknya pesaing dengan menu yang beragam membuat sebuah restoran buffet sulit dalam menentukan jumlah makanan yang harus disajikan. Untuk dapat menarik pelanggan, pihak restoran harus selalu menyajikan makanan dalam keadaan segar, menarik, dan selalu penuh. Di sisi lain, kemungkinan pelanggan untuk beralih ke restoran lain juga tidak kecil. Jika hal tersebut terjadi, maka makanan yang sudah terlanjur disajikan akan menjadi food waste.
  • Communication
Tanpa komunikasi yang lancar, informasi tidak dapat beredar dengan baik. Contohnya sebuah food service memperhatikan bahwa food waste yang dihasilkan berasal dari sisa makanan yang sudah terlanjur disajikan. Dengan memahami hal tersebut, penyaji makanan dapat menjelaskan masalah tersebut ke bagian manajemen, sehingga jumlah pesanan dari central kitchen dapat dikurangi. Ada juga kemungkinan terjadinya miss communication antara supplier dengan costumer terkait masalah pembelian bahan baku. Akibatnya, bahan baku tidak dapat digunakan dan menjadi food waste. Komunikasi dari sisi internal juga diperlukan, misalnya mengenai ketersediaan bahan baku. Informasi mengenai bahan baku yang sudah mendekati tanggal kadaluarsa harus segera diberi tahu. Tujuannya agar perputaran bahan baku dapat berjalan lancar, sehingga dapat menekan jumlah food waste.

Sekarang sudah tahu kan mengapa restoran banyak menghasilkan food waste? Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh si peneliti, elemen diners dan professional skills berpengaruh langsung terhadap jumlah food waste. Nah, kita yang berperan sebagai diners harus semakin sadar dan bisa berperan dalam mengurangi jumlah food waste ya!



Mari Mengintip Budaya Makanan di Romawi Zaman Kuno!

Halo semuanya, post kali ini akan membahas budaya makanan bangsa Romawi pada zaman dulu. Apakah kalian sering melihat adegan seseorang yang...