Rabu, 10 Mei 2017

Dilema Industri: Melimpah atau Menarik?

Di dalam dunia industri, secara garis besar hanya terdapat dua kutub yang akan menjadi pertimbangan, yaitu kutub resource (sumber daya) dan kutub market (pasar). Pada kutub resource, hal yang harus ditekankan adalah tingkat ketersediaan sumber daya. Ketika suatu bahan tersedia melimpah, maka proses produksi akan mudah dilakukan tanpa takut kehabisan sumber daya. Sebagai contoh suatu industri yang didirikan di Indonesia memilih produk laut sebagai bahan bakunya. Indonesia yang adalah negara kepulauan dengan wilayah laut yang sangat luas merupakan pilihan yang tepat karena menyediakan banyak sekali produk laut. Dengan kata lain industri tersebut tidak perlu mengeluarkan biaya lebih untuk mengambil produk laut dari negara lain dan juga tidak perlu mengkhawatirkan tentang keterbatasan bahan baku. Berbeda halnya ketika industri ini berdiri di negara Singapura yang wilayah lautnya sangat kecil. Industri tersebut harus mengambil bahan baku dari Indonesia, yang akan berdampak pada peningkatan biaya produksi. Selain itu, ada kemungkinan Indonesia tidak mau lagi mengirimkan produk lautnya ke Singapura sehingga menyulitkan industri tersebut dalam mencari bahan baku. Kemungkinan yang lain terdapat pada kutub market. Besar sekali peluang sukses bagi industri yang menghasilkan produk yang banyak dicari orang. Selama tingkat permintaan konsumen lebih tinggi dari penjualan produsen, maka berapapun produk yang dijual pasti akan dibeli. Sebagai contoh Indonesia yang sebagian besar masyarakatnya masih memanfaatkan beras sebagai kebutuhan pokok. Berapapun beras yang dihasilkan oleh produsen, pasti beras tersebut akan selalu habis dibeli oleh konsumen. Produsen tidak perlu takut merugi karena hasil produksinya tidak laku dan menjadi busuk. Namun sebenarnya ada satu kutub lagi yang tidak mudah untuk ditemukan, yaitu kombinasi dari kedua kutub tersebut. Ketika sebuah industri mengkombinasikan resource dengan market, maka keuntungan awal yang didapat akan jauh lebih besar. 




Dalam mengejar kedua kutub tersebut, ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Cara yang bisa kita lakukan pada kutub resource adalah technology push. Technology push adalah konsep menawarkan suatu produk yang baru atau belum ada pasarnya, yang contoh nyatanya adalah industri handphone. Sebelum ada handphone, satu – satunya alat komunikasi jarak jauh adalah telegram. Walaupun biayanya mahal dan membutuhkan waktu pengiriman, semua orang tetap menggunakan telegram. Namun ketika handphone hadir, semua orang langsung meninggalkan telegram karena handphone dapat digunakan untuk berbicara dengan lawan bicara jarak jauh. Sebelum diperkenalkan, tidak ada satu orang pun yang berpikir untuk mempunyai atau membeli handphone karena tidak ada yang terbayang apa itu handphone. Tetapi perlu ditekankan bahwa untuk melakukan technology push tidaklah murah, karena dalam memperkenalkan produk baru dibutuhkan biaya promosi yang sangat mahal. Teknik ini tidak cocok untuk industri kecil yang masih memiliki keterbatasan sumber daya, khususnya uang. Dengan kata lain, kutub alternatifnya adalah market. Cara yang bisa kita lakukan pada kutub ini adalah market pull. Sebagai contoh produk gula memiliki pasar yang sangat luas, namun sebagian besar gula dihasilkan dari tebu yang terbatas jumlahnya. Sebagai jalan keluarnya, industri dapat melakukan subtitusi tebu dengan bahan lain untuk memproduksi gula. Satu hal yang perlu ditekankan adalah sebelum berkutat dengan kutub - kutub tersebut, sebuah industri wajib melakukan langkah krusial yang dijelaskan pada post Langkah Esensial Pembuatan Industri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari Mengintip Budaya Makanan di Romawi Zaman Kuno!

Halo semuanya, post kali ini akan membahas budaya makanan bangsa Romawi pada zaman dulu. Apakah kalian sering melihat adegan seseorang yang...