Break Event Point yang disingkat sebagai BEP adalah sebuah titik impas dimana besar pendapatan suatu perusahaan sama dengan besar fixed cost yang dikeluarkan. Sangat penting untuk diketahui bahwa BEP tidak sama dengan balik modal. Perbedaannya adalah BEP dihitung hanya berdasarkan fixed cost yang dikeluarkan oleh perusahan, misalnya biaya marketing, listrik, biaya sewa, dan masih banyak lagi. Pengertian dari fixed cost itu sendiri adalah biaya yang tetap harus dikeluarkan setiap bulannya meskipun tidak ada kegiatan produksi. Sebagai contoh sebuah restoran yang tutup saat lebaran, diakibatkan seluruh pegawainya pulang kampung. Dalam kasus tersebut, restoran tetap harus membayar biaya sewa ruko walaupun tidak berjualan. Biaya sewa ruko itu disebut dengan fixed cost. Berbeda halnya dengan istilah balik modal, yang berarti seluruh modal yang dikeluarkan terbayar seluruhnya oleh keuntungan yang didapatkan. Istilah balik modal dalam finansial lebih sering disebut sebagai Return of Investment (ROI).
BEP dapat diketahui dalam dua cara, yakni pembuatan grafik dan perhitungan rumus. Kedua cara tersebut akan menghasilkan nilai BEP yang sama, namun perlu diperhatikan bahwa untuk dapat menghitung BEP, nilai dari fixed cost, variabel cost, dan harga jual perlu diketahui. Contoh perhitungan BEP baik dengan cara pembuatan grafik ataupun perhitungan rumus adalah sebagai berikut:
Sebuah industri rumah tangga XYZ harus membayar biaya sewa kios, promosi, listrik, dan air sebesar Rp 10.000.000 pada bulan Juli. Produk yang dibuat adalah roti dengan harga modal Rp 10.000/buah dan harga jual Rp 17.000/buah. Berdasarkan data tersebut, berapakah nilai BEPnya?
FC = Fixed Cost
VC = Variabel Cost
Unit = Jumlah Roti yang Terjual
Rev. = Pendapatan
Berdasarkan data tersebut, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat tabel asumsi perhitungan. Hal yang diasumsikan pada tabel tersebut adalah unit penjualan. Sebagai contoh pada penjualan 0 unit, nilai FC, VC, dan Rev. secara berurutan adalah Rp 10.000.000, Rp 10.000.000, dan 0. Walaupun tidak ada penjualan, industri tersebut tetap harus mengeluarkan uang sebesar Rp 10.000.000, sehingga nilai FC ataupun VC pada titik awal adalah sama. Namun ketika penjualan diubah menjadi 100 unit, maka nilai VC dan Rev. akan berubah menjadi Rp 11.000.000 dan Rp 17.000.000. Dengan meningkatkan unit penjualan terus menerus, maka dapat dibuat grafik dari tabel tersebut sehingga terbentuk perpotongan antara garis Rev. dengan VC. Titik perpotongan antara kedua garis tersebut lah yang dinamakan dengan BEP.
Nilai BEP itu sendiri dapat dilihat dalam dua pilihan satuan, yaitu dalam unit atau rupiah. Dari titik BEP tersebut, dapat ditarik garis tegak lurus terhadap sumbu X (unit) dan sumbu Y (rupiah). Perpotongan antara garis yang ditarik dari titik BEP dengan sumbu X adalah nilai BEP dalam unit, sedangkan perpotongan dengan sumbu Y adalah nilai BEP dalam rupiah. Cara yang lebih cepat dilakukan dengan menggunakan rumus.
Dari hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa industri rumah tangga XYZ akan mencapai titik impas (BEP) pada bulan Juli ketika roti yang dijual sebanyak 1.429 unit atau dengan penjualan sebesar Rp 24.285.714.




















